Kenapa Usia Harapan Hidup Orang Jogja Tertinggi di Indonesia, Padahal UMR Tergolong Rendah?

Harap Anda tahu, saat ini rata-rata usia harapan hidup orang Indonesia itu adalah 71 tahun. Artinya jika ada kerabat atau saudara Anda yang wafat di usia 65an tahun, maka artinya usia harapan hidup dia ada di bawah rata-rata nasional.

Usia harapan hidup hingga 71 tahun itu tergolong pencapaian yang bagus. Sebab di tahun 1990 (atau 30 tahun silam), usia harapan hidup orang Indonesia hanya 60 tahun. Artinya dalam 30 tahun terakhir, ada kemajuan luar biasa dalam aspek kesehatan masyarakat (public health), sehingga rata-rata usia harapan hidup orang Indonesia meningkat hingga 10 tahun.

Kita semua makin panjang umurnya. Dan semoga makin berkah.

Nah yang menarik, di antara semua provinsi di tanah air, rata-rata-rata usia harapan hidup orang Jogja adalah yang tertinggi. Yakni 75 tahun. Lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang hanya 71 tahun. Artinya wong Jogja punya usia 4 tahun lebih panjang dibanding rata-rata orang Indonesia lainnya.

Padahal di sisi lain, kita tahu UMR atau UMK Jogjakarta tergolong rendah. Jauh dibawah UMK Bekasi, Bogor atau Jakarta misalnya. Banyak orang Jogja yang mengeluh mengenai rendahnya UMR kota Jogja ini. 

Lalu jika rata-rata upah tergolong rendah, kenapa usia harapan hidup lebih tinggi? Kenapa orang Jogja bisa menikmati hidup lebih panjang dibanding mereka yang penghasilannya lebih tinggi?

Sebelum menjawabnya, ada baiknya kita mengetahui bagaimana rata-rata usia harapan hidup dihitung. Angka harapan hidup ini dihitung dari usia semua orang yang meninggal, baik yang usia dewasa atau bayi. Jadi angka ini amat bergantung pada kematian orang dewasa dan juga bayi baru lahir dan juga kematian balita (karena kekurangan gizi).

Angka harapan hidup Indonesia meningkat drastis, bukan saja karena orang dewasa usianya lebih panjang, namun terutama karena bisa menekan kematian bayi dan balita yang kekurangan gizi.

Contoh misalnya ada 3 orang meninggal. Yang dua meninggal dalam usia 70 dan 75. Dan yang satu meninggal saat saat masih usia 1 tahun karena kekurangan gizi.  Maka rata-rata usia harapan hidup 3 orang itu adalah = 70 + 75 + 1 = 48 tahun.

Dari skema di atas kita tahu, betapa fatalnya dampak kematian bayi atau balita bayi terhadap rata-rata usia harapan hidup orang Indonesia.

Nah, selama 30 tahun ini, orang-orang Kemenkes RI dan BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) mampu menurunkan secara drastis angka kematian bayi yang baru lahir dan juga kematian balita akibat kekurangan gizi. Hal inilah yang menyebabkan usia  harapan hidup orang Indonesia bisa meningkat secara dramatis. Selain tentu saja, orang dewasanya juga makin panjang umur.

Jadi kenapa usia harapan hidup orang Jogja tertinggi di Indonesia padahal UMR rendah?

Jawaban romantis bin abal-abal bin tidak berdasar data ilmiah adalah begini : karena orang Jogja hidupnya tentrem mas, tidak neko-neko, maka jiwanya bahagia dan lebih panjang umur. 

Jawaban di atas hanya berbasis perasaan yang romantis, dan kurang berdasar data ilmiah. Namun di Indonesia, jawaban yang berbasis perasaan sering lebih dipercaya dibanding data dan fakta ilmiah.

Jawaban yang lebih saintifik dan berdasar data adalah ini : karena rasio jumlah fasilitas kesehatan, terutama fasilitas untuk bayi dan balita seperti Posyandu di Jogja termasuk yang tertinggi di Indonesia. Ada banyak bidan berpengalaman di hampir setiap desa dan dusun di Jogja.

Inilah kenapa rata-rata kematian bayi di Jogja terendah di Indonesia, yakni hanya 20 per 1000 kelahiran.  Bandingkan dengan angka kematian bayi di Papua yang 80 per 1000 kelahiran bayi, atau 4 kali lipatnya !!

Dan seperti penjelasan sebelumnya, angka kematian bayi dan balita yang tinggi amat menentukan rata-rata usia harapan hidup wilayah tersebut. Jika ada banyak bayi yang meninggal di sebuah provinsi, maka rata-rata usia harapan hidup warga di provinsi tersebut akan anjlok. Sebab angka kematian bayi ini akan menjadi fakor pengurang yang singnifikan bagi rata-rata usia harapan hidup secara keseluruhan.

Kenapa angka kematian bayi di Jogja amat rendah? Ya itu tadi. Karena jumnlah fasilitas kesehatannya (Posyandu, Puskesmas, Klinik, RS) relatif banyak, dan pada sisi lain jumlah penduduk Jogja juga tergolong rendah, yakni hanya 3,6 juta. Bandingkan dengan Jateng yang punya 34 juta penduduk dan Jatim 39 juta penduduk. Rendahnya jumlah penduduk Jogja ini membuat rasio fasilitas kesehatan terhadap jumlah warga yang dilayani menjadi tinggi. Fasilitas kesehatan mereka tidak menjadi kewalahan atau kekurangan; seperti di provinsi lainnya.

Itulah penjelasan utama kenapa rata-rata usia harapan hidup orang Jogja tertinggi di tanah air. Rasio fasilitas kesehatan mereka yang tinggi membuat mereka mampu memberikan pelayanan kesehatan yang optimal, dan yang juga penting, mampu menekan angka kematian bayi menjadi amat rendah. Dan sekali lagi, angka kematian bayi yang rendah ini membuat rata-rata usia harapan hidup orang Jogja secara keseluruhan menjadi terangkat secara signifikan.

Pada sisi lain, pelayanan kesehatan yang optimal itu juga mampu membuat para orang tua di Joga menjadi lebih panjang usianya meski banyak yang sakit-sakitan. Sebagai info, rasio jumlah penderitas diabetes orang dewasa di Jogja itu DUA KALI LIPAT dari angka nasional.

DEMIKIANLAH, jawaban kenapa usia harapan hidup orang Jogja tertinggi di Indonesia.

Btw, saat saya mengajukan pertanyaan dari judul artikel ini di Instagram, hanya 1 orang yang menjawab dengan data ilmiah seperti yang saya uraikan di atas. Sisanya memberikan jawaban yang hanya berdasar “perasaan romantisme” dan sama sekali tidak berbasis data.

Namun mungkin itulah ciri khas netizen di media sosial : acapkali nyolot dan komentar dengan hanya berdasar perasaan, namun kosong data dan fakta ilmiah yang valid. Mungkin juga karena mayoritas netizen di tanah air jarang baca buku berkualitas.

Penulis artikel ini adalah Yodhia Antariksa, Msc in HR Management. Yodhia merupakan konsultan manajemen SDM dan penulis 12 buku best seller dalam ilmu bisnis dan pengembangan diri.

Silakan KLIK DISINI untuk mendapatkan buku karya Yodhia Antariksa.