Bekerja dari Rumah, Siapa Takut?

Setiap pagi dan sore di hari kerja, pemandangan di jalanan kota-kota besar tampak selalu membikin miris : gemuruh suara knalpot dalam balutan kemacetan yang kian tak tertahankan. Ribuan pengendara sepeda kotor terus menderu membelah jalanan. Para penumpang bis angkutan umum saling bergelantungan dalam rona keletihan yang membuncah. Sementara para pengendara mobil pribadi hanya bisa menghela nafas, kenapa jarak 5 km harus ditempuh dalam waktu satu jam.

Tentu saja salah satu penyebab kemacetan adalah kian meledaknya jumlah penduduk di perkotaan (urbanisasi yang kian menggelontor makin membuat kota-kota besar limbung menahan beban). Namun sebab lain adalah ini : banyak perusahaan – menengah dan besar – yang memilih kantornya di pusat kota, atau paling tidak di tengah pusat keramaian.

Cobalah tengok area segitiga emas di kota Jakarta, antara ruas jalan Sudirman, Thamrin, dan Kuningan. Setiap bulan rasanya berdiri gedung perkantoran baru di tiga kawasan itu; dan sungguh ini membuat tiga jalan besar itu termehek-mehek menahan kegetiran (fenomena ini saya kira juga terjadi di kota besar lainnya di tanah air). Akibatnya fatal : setiap sore jalanan di kawasan-kawasan ramai itu benar-benar padat merayap.

Dan sungguh itu menjadi pukulan yang frontal bagi produktivitas karyawan. Ribuan jam mereka habiskan sia-sia di jalanan yang makin macet. Dan aha, tidakkan jalanan yang kian sumpek itu membuat mereka kian loyo, stress, dan tiba di kantor dengan muka yang sudah ucel-ucelan. Tidak fresh lagi maksudnya.

Itulah kenapa beberapa tahun terakhir muncul gagasan yang rasanya asyik untuk diterapkan : yakni membolehkan para karyawan bekerja dari rumah. Istilah keren bagi karyawan yang bekerja dari rumah adalah teleworker.

Praktek teleworker ini sudah lazim diterapkan di sejumlah negara luar. Dan dampaknya bisa sangat positif. Bagi para karyawan, kebijakan semacam ini tentu akan membuat mereka tidak harus setiap pagi dan sore berdesak-desakan di jalanan, dan membuang waktu sia-sia. Mereka juga bisa makin hemat dalam ongkos transportasi.

Dan ini yang penting : berdasarkan sejumlah riset, praktek teleworking ini berdampak positif bagi peningkatan produktivitas karyawan. Dalam jangka panjang, hal ini tentu juga akan memberikan manfaat positif bagi perusahaan.

Memang segera harus disampaikan bahwa kebijakan ini tidak bisa berlaku untuk semua jenis pekerjaan. Pekerjaan sebagai teller, direct salesman, atau cleaning service tentu ndak bisa dikerjakan dari rumah. Demikian juga pekerjaan sebagai perawat, mekanik di bengkel, atau teknisi di pabrik. Namun percayalah : banyak pekerjaan administratif, atau juga di bagian back office dan sejenisnya, yang bisa dikerjakan dari rumah. Dengan bantuan email dan intranet, pekerjaan semacam ini bisa dikoordinasikan dan dikerjakan secara remote.

Yang paling penting adalah ini : gagasan teleworking ini bisa dikerjakan jika suatu organisasi sudah memiliki result areas yang jelas untuk posisi yang hendak dikerjakan dari rumah. Dengan kata lain, konsep bekerja dar rumah ini memang sangat bersandar pada konsep result : please show me the results. “Gue ndak peduli elo mau kerja di hutan, di kafe atau di rumah…..yang penting laporan elo lusa harus kelar”. Demikian kira-kira jargon para teleworker.

Di tanah air sendiri, sudah ada beberapa perusahaan yang mencoba mempraktekannya. Dulu ketika saya bekerja pada sebuah firma konsultan asing, mereka punya kebijakan yang membolehkan saya bekerja dari rumah dalam beberapa hari (misal dua atau tiga hari dalam seminggu, asal tidak ada meeting dengan klien). Yang penting : kerjaan rampung sebelum deadline.

Praktek semacam inilah yang sekarang juga saya terapkan bersama rekan kerja atau asisten/associate yang bekerja dengan saya. Sepanjang tidak ada meeting dengan klien, saya meminta mereka bekerja dari rumah. Saya sendiri juga bekerja dari rumah. Komunikasi dilakukan melalui email. Yang penting target kerja jelas : kapan dan apa yang harus diselesaikan.

Saya kira sudah saatnya perusahaan di tanah air pelan-pelan berani memulai penerapan kebijakan teleworking ini. Saya percaya jika direncanakan dengan matang, kebijakan ini akan membuat win-win solution : karyawan happy, perusahaan juga akan dapat manfaat positif.

Yang pasti, dengan konsep teleworking ini, banyak karyawan kantor yang bisa berhenti menghabiskan usia di jalanan; di tengah raungan mesin dan asap knalpot yang terus menderu……
.
NOTE : Salah satu pilihan bisnis online yang bisa dikerjakan dari rumah, bisa Anda eksplorasi DISINI.

Photo credit by : wili hybrid @ flickr.com

43 comments on “Bekerja dari Rumah, Siapa Takut?
  1. Ide yang brilian pak Yodhia,

    Dgn lalu lintas yg smakin sesak, perlu dipikirkan alternatif utk bs tetap produktif dgn meminimalisir penggunaan transportasi yg mjd pemiccu kemacetan. Why not kalo secara teknologi sudah memungkinkan…

    Matur Nuwun

  2. Sudah lama saya mencari pekerjaan yang dapat dikerjakan dari rumah walaupun hanya 2 atau 3 hari, yang real pekerjaan kantor dikerjakan dari rumah bukan internet marketing.

    Benar-benar tertarik dgn ide di artikel pak Yodia, mungkin dpt diinformasikan perusahaan apa yang sudah menjalankan teleworker tersebut agar saya dpt mencoba melamar pekerjaan.
    Terima kasih pak Yodia.

  3. Mas Yodhia, apa yang diceritakan dan atau seperti halnya virtual office seharusnya terus dibudayakan pada era sekarang dan mendatang ini, buat kita yang pekerjaannya memungkinkan dan terbiasa enggak ada masalah, sementara lainnya memang ada tekanan psikologis.Dikawasan Kuningan,Casablanca, dan beberapa gedung di Sudirman sudah ada pengelola virtual office, enak koq dan sejauh ini tidak/belum ada masalah. be a part of the solution… n GBU 4 ever.

  4. that’s a good idea, diluar negeri saya dengar sudah banyak yang menjalankan ide tsbt, kalo di Jakarta para pengusaha sudah berpikir kearah situ, saya kira itu sangat menbantu mengurangi kemacetan & sebagai ibu yang bekerja pastinya lebih banyak waktu untuk keluarga…mungkin kalo infonya lebih lengkap lagi dengan memberi masukan perusahaan mana yang sudah menjalankan teleworker…itu lebih baik lagi….makasih

  5. Cocok Mas Yodhia, kalau bisa dikerjakan dirumah kenapa enggak? buat perusahaan pun tentunya akan terjadi efisiensi yang cukup besar, misalnya kebutuhan listrik, maintenance dll bisa diminimize.

    Sukur-sukur kerja dirumah karena emang punya usaha sendiri spt Mas jadi lebih fleksibel lagi.

    Met ketemu lagi Mas, saya pernah ketemu saat Mas jadi konsultan KPI di PT SI

  6. konsepnya bagus juga…kerja di rumah selama ada internet sih ga masalah, cuman biaya koneksi juga jadi pertimbangan untuk sebagian orang.

    Oh iya, saya mau tanya, berkaitan dengan konsep ini,

    1.adakah sebuah penelitian, waktu yg efektif sebenarnya untuk bekerja (untuk administratif) itu rata2 setiap orang brp ya? sehingga dengan mengeliminasi kehadiran di kantor tidak berdampak pada kinerja perusahaan

    2.biaya transport bisa hilang, tapi biaya internet bisa bengkak. tujuan utamanya sendiri untuk menghindari kemacetan? kerja nyaman ? apa kebebasan waktu ? secara ga semua karyawan jga tinggal di tempat yg nyaman, dan kalo pun harus memilih kafe untuk bekerja, laptop pun jadi suatu hal wajib, padahal ga semua orang punya laptop?

    3.perusahaan yang sudah menjalankan konsep ini di indonesia di mana saja ya pak? : )

  7. Itu pekerjaan yg saya impikan sejak dulu Pak Yodhia….apalagi buat wanita, bisa sambil mengurus anak dan suami. Yang penting target tercapai kan…

  8. memang efektif…saya sudah lama mempraktekan hal ini..saya sendiri banyak mengendalikan perusahaan dari rumah dengan posisi saya sebagai direktur utama di jasa konsultan kalau ada hal-hal yang sangat penting yang tidak bisa di delegasikan baru keluar kandang , tim marketing pun hampir di hitung dnegan jari mereka masuk kantor karena rapat dan evaluasi biasa kami selesaikan di warung kopi…tinggal staff admin aja yang jaga kantor

  9. iya memang ide yang cukup baik dan win-win solution.. tapi tidak berlaku untuk saya yang menjadi salah seorang penjaga toko..

  10. Lala (2) : sayang, saya kebetulan juga ndak punya info detil mengenai perusahaan yang sudah menerapkan konsep teleworking ini. Setahu saya sejumlah perusahaan dengan jenis usaha konsultan manajemen….sudah mulai menerapkan hal ini.

    Yohan (8) : memang perusahaan harus membantu menyiapkan infrastrukturnya juga, maksudnya mereka juga memberi biaya koneksi internet, menyediakn laptop (PC). Sejumlah perusahaan di luar negeri menanggung semua biaya-biaya sarana ini.

    Perusahaan yang sudah menerapkan ini biasanya small company, dan pemiliknya punya pola pikir terbuka.

  11. Konsep teleworking ini memang sudah menemukan momennya sekarang dengan semakin murah dan mudahnya teknologi komunikasi. Ditambah lagi dengan tren freelancing di mana orang tidak lagi harus terikat dalam satu employer untuk berkolaborasi (freelance economy).

    Bagi kita di Indonesia, kendalanya mungkin lebih pada disiplin. Teleworking menuntut disiplin kerja tinggi yang berorientasi hasil. Banyak pegawai yang diberi kesempatan teleworking justru meng-abuse privelese itu sehingga bekerja lebih santai dari sebelumnya. Bila tidak disiplin, suasana kerja di rumah memang lebih santai dan banyak distraction. Kita juga cenderung toleran dengan deadlines, tidak seperti orang barat/jepang yang memperlakukan deadline sebagai hal yang tidak bisa ditawar.

    Jadi, bisa dimengerti bila banyak perusahaan takut memberikan keleluasaan ini kepada karyawannya.

  12. masalahnya, tidak semua pekerjaan bisa di “teleworking” Rick, mungkin hanya level manajer menengah ke atas dan para pekerja profesional yang bisa melakukan pekerjaan yang di teleworkingkan tadi..sementara yang menyesaki jalan-jalan di jakarta tersebut sebagian besar adalah karyawan-karyawan yang nampaknya memang dibutuhkan kehadiran fisik, seperti para pekerja pelaksana, dll yang pekerjaannya-nampaknya- tidak bia diteleworking kan..

  13. Saya sudah melakukan “bekerja di rumah” semenjak 2006..hasilnya lumayan…plus ga stress di jalan, ga harus bangun pagi2, lebih banyak waktu buat keluarga 🙂

  14. Hendro (14) : memang teleworking ini btuh self discipline yang tangguh….juga tanggungjawab akan results. Result oriented. Saya kira jika skema kerja dan hasil sudah diuraikan dengan jelas, pelan-pelan ini akan membuat semua berjalan dengan lancar dan optimal.

    Ernanda (16) : anda mungkin bisa sharing lebih detil mengenai pengalaman Anda itu.

    Memang yang paling oke adalah bekerja secara mandiri, baik sebagai freelance (self employed) atau punya usaha sendiri….dimana kemudian kita bisa bebas menentukan lokasi kerja kita sendiri….Misal menjadikan rumah sebagai tempat kerja juga.

    Kalau status masih sebagai karyawan, mungkin agak susah juga….kecuali jika perusahaan kita banyak yang berani mencoba konsep ini.

  15. saya juga sudah dua tahun mencoba pekerjaan freelance yang tentu didukung perusahaan 🙂 hasilnya sangat lumayan. untungnya pekerjaan saya memang “sangat” on line..jadi bs dikerjakan dimanapun.mdh2an kedepan byk perusahaan lain yang mencobanya..

  16. Wah, bener tu mas, indonesia sebagai penghasil polusi 5 besar di dunia juga perusak hutan terbesar di dunia, harus konsekuen untuk menyelamatkan dunia ini, dengan tidak banyak asap mobil karena harus ke kantor. Teleworker juga handal, apalagi sekarang zaman IT sedang hangat2 nya.. Pas deh mas..Salut buat inspirasinya Mas Yodia, semoga Intrepreneur dan pengusaha bisa tercerahkan dan tahu solusi ini..

    Semangat terus buat BLOG ini..

    TIAN-BALI

  17. sepertinya hal yang menyenangkan
    karena pasa basic nya semua memulai usaha dari rumah

    nb: izin copas mas.. tulisan mau dimasuk ke blog saya

    nuhun

  18. setuju banget dengan tulisan mas yodhia. namun masih banyak pimpinan yang mengharuskan karyawan bekerja dengan waktu kerja pagi sampai sekarang.
    namun untuk menerapkan pola kerja di era internet ini, banyak tantangan yang harus dihadapi antara lain, faktor budaya, tanggung jawab, target yang jelas da nterukur serta kepercayaan. pimpinan yang menerapkan pola kerja baru ini harus menanamkan nilai-nilai tersebut, sebab bisa disalahgunakan oleh karyawan2 yang pura2 kerja di rumah padahal keluyuran ke mana2.

  19. betul sekali mas yodia … kerja dirumah sapa takut? dan saya sedang merintisnya skrg.. walopun hanya sbg konsultan kecantikan freelance dengan sistem online tapi masih bisa dibilang teleworker kah pak ? 🙂
    Btw, kira2 bisa taruh baner disini? .. thanks before mas yodia 🙂

  20. Tengkiu Mas Erick,
    Oke bgt…dan syukur dah kuterapkan …. syukur internet makin mudah so…kerjaan jg lancar. Palagi yg sy terapkan adlh result…sy bekerja ikut orang, dan sy jg bisa mengelola bisnis yg sedang sy rintis bisa berjalan bersama. Konsekuensinya saya memang hrs menyiapkan smua keperluan ktr ada di rumah…yang penting anak2 lebih dpt wkt lebih banyak dg saya….Namanya jg ibu rumah tangga yg berperan multi fungsi…yach

  21. ya stuju. Ini sudah zaman internet. Beberapa orang bahkan bisa bekerjasama membangun tim di negara yang berbeda-beda. Dan menurut gagasan “Yang Kecil adalah yang Besar Berikutnya” sebenarnya gedung2 yang megah itu hanya menambah biaya overhead. Dan semakin besar gedung kantornya berarti pekerjaannya semakin buruk, itu karena birokrasi yang kompleks. Meski tidak mutlak tp hampir pasti. Sebenernya ga ada jeleknya jg harus naaek angkot, bis, berdesak-desakan, ramai. Yang penting bagaimana kita membuatnya menyenangkan. Bertemu orang baru saat berangkat kerja, ngobrol, tambah ilmu baru, atau mugkin tambah klien baru. Yang penting kreatif untuk membangun suasana kerja yg menyenangkan… my blogindomanajer.worpress.com

  22. Membaca artikel ini sungguh memberi inspirasi pada saya, namun sayang informasi tentang perush yang menggunakan sistem ini kurang. sehingga banyak dari pencari kerja jatuh di tempat yang sama yaitu menghabiskan separuh hidupnya di “jalanan”. kalo ada yang tau info perush yang membutuhkan karyawan dan jelas mereka menggunakan sistem ini aku mau banget dunk jadi bagian dari mereka.. ada info?? sent me on email please… thanks a lot ^_^

  23. mo berbagi informasi aja, buat anda yg tertarik ingin bekerja di rumah (teleworking, telecommuting) tapi gak tau harus mulai dari mana

    bbrp pekerjaan seperi, Akuntan, Writer, Drafter, Designer, Virtual Assistant, Data Entry, Programmer, dll bisa dikerjakan di rumah

    anda bisa mencari lowongan2 tersebut ke situs2 berikut

    http://www.odesk.com
    http://www.guru.com
    http://www.elance.com

    atau bisa juga cari di google dgn keyword seperti ini, katakanlah anda ingin mencari posisi accountant, tinggal ketik “accounting telecommuting job”, dan akan muncul ribuan hasil

    saya sendiri sudah 2 tahun Full time bekerja secara jarak jauh, dan itu rasanya menyenangkan, terutama seperti kata Mas Yodha, bisa menghindar dari kemacetan lalu lintas, kemacetan itu ironis karena bisa menyebabkan stress melebihi dari pekerjaan itu sendiri

    @Mas Yodha
    saya coba sharing artikel ini di FB, koq gak bisa yah ? …tidak muncul apa2 cuma kata2 strategimanajemen.net aja, sy ingin sekali berbagi artikel ini dgn temen2 saya

  24. Pingback: 3 Pilihan untuk Bisa Working @ Home | blog strategi + manajemen

  25. sudah sebulan saya jadi teleworker di IM Consultant, hasilnya justru lebih produktif, ide mengalir lebih lancar, output pun lbh ciamik..

  26. Teleworker sangat bagus diterapkan pada kondisi jalan yang macet, apalagi kalau kantornya jauh dari rumah. Bekerja kan tidak harus di kantor. Yang penting kan kerjaan kantor selesai. Kantor modern harusnya bisa memakai model manajemen seperti itu.

  27. hehehee… kalo pekerjaan yg perlu setor muka masih sulit untuk dijadikan teleworker, apalagi yg suka cari muka…

    buka toko online jadi salah satu pilihan untuk teleworker…

  28. Melihat kondisi jakarta skrang ini, rendahnya ruang kebagaian untuk menikmati hidup, knp demikian. krn semakin sempitnya sarana prasarana area untuk bermain seperti alun2, taman perkotaan, dsb. yang ada bangunan mol dimana2, apartemen dan perhotelan.

Comments are closed.