Kenapa Mental Gratisan Bisa Membuatmu Terus Terpuruk dalam Nestapa?

brain reLedakan internet yang terus berlangsung dengan gemuruh ini, ternyata telah membawa berkah tak terkira : begitu banyak konten hiburan, informasi bermakna dan kepingan ilmu pengetahuan yang terserak bisa dinikmati dengan gratis.

FREECONOMICS, begitu sebuah istilah menyebut fenomena tentang jutaan konten digital yang bisa dirayakan dengan free.

Namun hati-hati, memiliki mentalitas gratisan ternyata juga bisa membuat kita terpelanting dalam duka. Kenapa? Mari kita ulas pagi ini, ditengah gerimis yaang terus membasahi tanah kita berpijak.

Dalam contoh yang ekstrem, mentalitas gratisan pelan-pelan menghancurkan rasa penghargaan kita pada karya orang lain yang telah dibuat dengan susah payah.

Dan ini muram, sebab begitu kita kehilangan respek pada karya orang lain – dengan otomatis Anda juga membunuh respek pada karyamu sendiri. Dan kelak ini bisa membawa karma pahit dalam jejak sejarah hidupmu.

Contoh : mentalitas gratisan memburu buku bajakan dalam bentuk PDF. Buku bajakan dalam bentuk PDF menjadi marak karena mentalitas gratisan yang begitu akut merasuk.

Saya suka terkejut melihat orang bertanya, mas buku itu ada PDF (bajakannya) ndak? Dimana downloadnya? Atau bahkan ada juga forum yang isinya saling berbagi ebook/PDF bajakan.

Oh man. Mentalitas gratisan semacam itu tidak akan membuat hidupmu menjadi barokah.

Itu contoh ekstrem tentang mentalitas gratisan yang kelam.

Contoh mentalitas gratisan yang lebih santun mungkin seperti ini : selalu hanya memburu ilmu gratisan. Giliran dibuat premium dan harus bayar, langsung ngomel-ngomel : lhah kok harus bayar.

Memburu ilmu gratisan memang sah-sah saja.

Namun kalau mentalitas gratisan itu yang melulu dipelihara, dan kadang dengan sikap merajuk ingin meminta yang gratisan terus (lalu ngomel-ngomel kalau harus berbayar) – ini sikap hidup yang tak sepenuhnya elok.

Kenapa? Karena menanamkan mentalitas gratisan (meminta yang gratis melulu) pelan-pelan tanpa Anda sadari bisa masuk ke alam bawah sadar Anda, dan lalu bisa menciptakan “nasib gratisan”.

Maksudnya nasib dan rezeki Anda juga akan selevel yang gratisan, murahan, jadi tidak bisa membesar menjadi kelas premium. Mentalitas gratisan bisa membawa kita terus terpuruk dalan nestapa.

Alasan lain tentu karena kita ingat kalimat heorik ini : investasi terbaik dalam hidup itu adalah investasi untuk mempertajam otakmu.

Dengan kata lain, investasi yang memang penting untuk pemekaran otak dan skills kita acap harus ditebus dengan pengeluaran yang premium.

Contoh : misal ada layanan kursus online berupa ratusan video tutorial tentang internet marketing, ilmu pengembangan diri, personal finance dan manajemen bisnis – dengan biaya akses hanya 350an ribu seumur hidup – apa yang akan Anda lakukan? Kalau saya, akan langsung daftar menjadi anggotanya.

Kenapa langsung join? Karena pelajaran tentang ilmu internet marketing, pengembangan diri dan lain-lain itu bisa memberikan impak yang dramatis bagi penajaman otak saya, dan kelak ini bisa memberikan dampak finansial yang amat masif bagi nasib hidup saya.

Sayangnya, banyak orang yang masih mikir mengeluarkan 350an ribu itu. Yang kelam, orang rela mengeluarkan uang segitu setiap bulan untuk bensin dan pulsa, atau bahkan jutaan untuk beli gadget. Namun giliran investasi untuk otak dengan ongkos yang amat terjangkau, masih mikir dua kali.

Atau mungkin karena banyak orang mikir uang 350 ribuan untuk meraih ilmu itu sebagai COST – bukan INVESTMENT.

Mikirnya sayang ah, keluarin ratusan ribu. Iya, karena fokus pikirannya pada biaya sekarang, bukan pada return atau dampak yang bisa dihasilkan dari investasi ratusan ribu itu.

Kalau orang cerdik, mikirnya IMPAK. Dengan hanya ratusan ribu, dia bisa belajar dari ratusan video tutorial yang sangat valuable. Dan dampak ilmu itu bagi peningkatan income dia bisa ratusan kali lipat dibanding investasi yang hanya ratusan ribu rupiah.

Orang dengan mental gratisan fokus pada BIAYA. Orang dengan mentalitas berkelimpahan akan fokus pada IMPACT dan return on investment. Ini filosofi kunci ketika Anda kelak berhadapan dengan produk ilmu premium yang mungkin ditawarkan secara online.

Sebab sering hasilnya seperti ini : Anda spend 0 rupiah demi gratisan, namun hanya menghasilkan percepatan rezeki 1 juta. Atau Anda spend 300 ribu, dan menghasilkan percepatan income 30 juta. Milih mana? Kalau saya, milih yang kedua.

Itulah namanya mentalitas berkelimpahan, bukan mentalitas gratisan. Untuk meraih percepatan rezeki yang masif, kadang kita mesti mengeluarkan investasi yang pas. Bukan terus memburu yang serba gratisan.

Dilatari oleh prinsip itu, saya rekomendasikan agar setidaknya Anda mengalokasikan dana tertentu untuk investasi demi penajaman kapasitas otak dan skills Anda.

Mungkin jumlahnya cukup 100 ribu per bulan (atau 300 ribu per tiga bulan). Sangat kecil bukan. Kalau mau lebih besar, lebih bagus.

Lalu belanjakan dana itu untuk membeli buku, ikut seminar atau daftar kursus online tentang ilmu manajemen bisnis (kalau kelak ada yang membuka layanan seperti ini).

Sementara itu, silakan saja menikmati terus sajian renyah dari Blog Strategi + Manajemen ini, yang alhamdulilah, masih belum berbayar hingga hari ini. Alias FREE sejak 9 tahun lalu 🙂 🙂

Namun kalau kelak saya merilis layanan premium yang berbayar, mudah-mudahan Anda semua sudah siap ya. Kan sudah nabung dari sekarang 🙂

Akhir kata, selalu kenanglah kalimat ini :
The best investmen in your life is not in property nor gold.
The best investment is educating your mind.
Sharpening your brain.
Accelerating your skills.

SEE YOU AT the TOP

Related Post

Analisis Kenapa Harga Tiket Pesawat Sekarang Mahal Sekali Sejak awal tahun ini, terdapat tren kenaikan harga tiket pesawat jurusan domestik yang sangat tajam, naik antara 30 hingga 50%. Kontan banyak pelangga...
Kenapa Harga Tanah dan Rumah Terus Naik Gila-gilaan? Ya, kenapa harga rumah sekarang makin melangit? Pergerakan kenaikan harga tanah dan rumah memang suka bikin orang yang tidak punya banyak uang, jadi p...
Kenapa Blog Strategi Manajemen Terpilih sebagai Blog Bisnis Terbaik No. 1 se-Indonesia Anda ingin perjalanan karir atau bisnismu terus tumbuh dengan cemerlang? Salah satu cara yang mungkin harus Anda lakukan : segera mulailah membangun s...
44 comments on “Kenapa Mental Gratisan Bisa Membuatmu Terus Terpuruk dalam Nestapa?
  1. perlahan tapi pasti, mulai meninggalkan semua skill pencarian ebook di warez. Mending beli langsung yang berbentuk hardcopy enak dibaca dan HALAL

  2. Gratis bagi pemberi bisa jadi jalan sedekah, dan bagi si penerima bisa jadi nikmat. Namun mental gratis yang selalu berharap gratis lah yang harus diwaspadai. Setuju dengan ulasan Pak Yodhia…

  3. nah ini nih artikelnya ngena banget…mak jlebeb saya sebagai pemburu gratisan nih. makasih mas yodhie udah ditampar abis-abisan hehe. mudah-mudahan kedepanya say abisa selalu mengeluarkan uang untuk investasi pengembangan otak.

  4. Terima kasih Mas Yodhia,

    Memang benar dalam hal menghargai karya kita sepatutnya malu untuk membajak. Namun, apabila kecenderungan peradaban dan kemajuan teknologi sudah semakin konvergen ini, maka sulit rasanya menangguhkan.

    Hal terbaik dilakukan sekarang adalah, dengan Blue Ocean Strategy, keluar dari bayang2 ketakutan pembajakan. We should let people be satisfied of what they’re doing. Kita rubah mindset.

    ..for a greater good.

  5. Bener banget nih. Di desa saya masih banyak yg memilih menganggur atau nyaman bekerja di pabrik. Padahal sering ada tawaran kursus di BLK, atau menolak kerja di tempat yg bagus hanya karna ‘ogah’ dibayar murah selama magang 3-6 bulan.

    Adakah disini yg punya saran merubah mindset ‘budaya’ ?

  6. Pak Yodhia, pagi tadi saya menemukan situs Anda tidak bisa dibuka seperti biasa. Ketika saya ketik link blog Anda seperti biasa, saya malah diarahkan ke halaman WordPress. Kenapa bisa begitu, Pak?

  7. Setuju om…

    yah meski saya seneng gratis honestly, tapi udah sering banget keluar duit beli buku dan digital study course, ebook, video, dsb.

    Blog ini jangan dibuat berbayar om, tapi mungkin bikin buku aja, dan ebooknya.. 😀

  8. Saya sich nggak bisa tidak .. terpaksa harus setuju dengan salah satu tulisan dahsyat dari guru jarak jauh saya Mas Yodhia Antariksa

    Karena turunnya rezeki sepanjang pengalaman saya juga selalu berbanding lurus dengan effort dan pengorbanan yang kita keluarkan untuk menjemputnya..

    Semakin besar pengorbanan kita untuk mendapatkannya.. Allah membalasnya dengan rewards yang lebih besar dan lebih cepat lagi..

    Itulah mengapa.. walaupun saya bisa mendapatkan banyak bahan di internet secara gratis dengan sisa sisa keahlian saya di bidang IT di masa lalu dengan cara cara curang..

    Saya lebih memilih untuk membeli dan membayarnya secara sah..

    Karena selain lebih berkah.. juga tidak membuat rezeki saya tertahan.. selain juga menjamin keluarga tercukupi dari sumber sumber pendapatan yang halal..

    Kalau masalah banyak yang mengcopy.. mencontek.. strategy yang kita ajarkan.. nggak masalah..

    strategy boleh dicontek.. teknik boleh di tiru.. tetapi saya sangat yakin..

    Rezeki yang halal tidak akan bisa di copy dengan cara cara yang tidak berkah..

  9. Terima kasih pak.

    Ya sebenarnya kalau ada ilmu gratis ya tidak apa-apa. Tapi mental kita yg jangan sampai jadi gratisan.

    Artinya kalau memang harus invest, ya kudu berani invest. Apalagi kalau kita punya goals hidup yang jelas, ya otomatis kita akan berani untuk investasi sampai dimanapun demi tercapainya goals tersebut.

    Salam sukses

  10. Bacanya bikin jleb. Saya memang lebih suka mencari yang gratisan. Tidak hanya buku saja mas.

    Hampir semua yang di internet bisa didapat dengan mudah walaupun yang berbayar tetapi bisa didapatkan dengan gratis.

    Yang jadi masalah menurut saya bukan barangnya.

    Tetapi manusia itu sendiri. Saya miris terkadang melihat orang lain yang mendapat barang bajakan dan lebih gilanya lagi malah diperjual belikan.

    Great post 🙂

  11. saya jg baru menyadari 2tahun terakhir om Yod kalo gratisan itu secara gak sadar, jd CEMEN.

    skr saya mulai memikirkan investasi yg PAS buat bisnis saya. dr bisnis online skr saya expansi ke bisnis ofline (kuliner).

    dan alhamdulillah selama 2bulan ini omset penjualan naik terus.

    krna saya semakin menyadari hidup itu harus IMBANG. ga cuma kerja online, tp ofline jg harus jalan 😀

  12. Iya bener mental gratisan memang buruk, nanti orang yg kerjanya jual jasa bisa turun kesejahterannya.

    Cuman saran supaya harga bisa lebih bersaing. Misal buku di bookstore harga rata2 50-150 an . Lha ebook kadang2 bisa sampe 200an. Kalau saya jelas pilih buku biasa padahal ebook kan hampir 100% untung buat yg nulis kalau gak pake affiliate.

    Bagusnya juga ebook 1 sisanya script biar kita kerja terbantu. Balance antar teori dan praktek.

  13. Saya suka tulisan bang yodh, nyindir tapi tidak menyinggung dan menggurui. Ibarat bang yodh bisa menyajikan madu tanpa harus terkena sengatan lebah.

    Karena Indonesia dengan kondisi ekonomi dan masyarakatnya yang belum semaju amrik, pasti hal hal yang gratis atau free sangat diburu. Alih-alih untuk menghargai karya orang lain untuk mengisi perut sendiri aja masih susah.

    Ini saya istilahkan masih di zona perut.

    Dahulu saya adalah orang di zona perut. Saya salah satu dari yang menyukai hal hal yang gratis. Karena keterbatasan dana tapi mempunyai naluri belajar yang tinggi.

    Alhamdulillah, sekarang karena sudah diberi kemampuan financial atau saya istilahlan zona kepala, alhasil paradigma menghargai karya orang lain dengan cara membeli sudah sering saya lakukan.

    Kalau orang masih di zona perut tidak bisa membedakan mana cost mana invest. Semuanya adalah cost untuk life.

    Artikel artikel di sini banyak yang bisa menginspirasi apalagi free.

    Ini bisa mengedukasi orang orang yang masih ada di zona perut tadi biar orang orang itu bisa bangkit ke zona kepala atau mind.

    Secara tidak langsung bang yodh lama kelamaan akan memetik hasil edukasi lewat blog ini kelak. Misal blog ini berbayar, saya kira orang orang dizona mind sudah siyap. 🙂

  14. yakin pada ga suka mental gratisan ? tolong cek laptop dan PC anda….berapa software yg official dan free yg diinstall ? cek juga app di android anda…

    Du blog ini tersedia juga e book gratis, terlebih ada pop up di menit ke 2 setelah kita baca artikel disini.

    So….bukankah secara tdk langsung blog ini juga mendorong mental free tumbuh ?

  15. Bagus tulisannya Kang.

    Mental seperti itu barangkali bertahap.
    Pada tahap-tahap awal belum punya banyak uang, mau tidak mau untuk meningkatkan kapasitas diri menggunakan tools dan sumber gratisan.
    Misalnya ikut kursus gratis di IndonesiaX atau sejenisnya.

    Tahap berikutnya, dengan kapasitas yang meningkat, pendapatan pun meningkat. Di tahap ini sudah mulai mencari beberapa sumber dan tools yang berbayar, walaupun sumber gratisan masih digunakan.

    Tahap independen. Di tahap ini, semua sumber dan tools gratisan ditinggalkan dan sudah bisa memberikan sesuatu untuk orang lain.

  16. SAya setuju dengan:
    taraf hidup mengikuti mentalnya

    mentalya gratisan, hasilnya gratisan.
    Saya juga lebih setuju beli hardcopy. mungkin karensa ya sudah “tua”, saya lebih suka pegang buku dan koran sungguhan dibanding baca dari gadget

    salam,
    luki transwish

  17. Seperti layaknya gelas yang penuh, maka sudah tidak bisa diisi

    Gelas harus dikosongkan dulu

    Keluarkan airnya = keluarkan ilmu mu

    Gelas jadi kosong walau kosongnya adalah melalui memberi dengan gratis

    Sekarang jika kosong gelasnya maka kita sudah siap memasukkan ilmu lain

    Ini dari sisi si pemberi ilmu gratis

  18. mental gratisan memang bahaya, meski suka tapi jangan sampai jadi kebiasaan.
    Artikel ini membuat saya tersadar kembali kalau investasi buat otak itu penting, terimkasih tulisannya!

  19. Alhamdulillah saya sudah menyembuhkan diri dari mental ini. Paling – paling download lagi dari YouTube kadang, kalau kepentingan lain yang saya rasa penting dan berkaitan dengan upaya mendapatkan rezeki, saya nggak ragu buat bayar mas.

    Makasih, so inspiring 🙂

  20. Ibarat org yg ditraktir dgn yg mengtraktir.. mana yg lbh berejeki? Tentu saja org yg mengtraktir (aktif). Hahaha

Comments are closed.