Semua sebutan diatas sejatinya merujuk pada fakta tentang makin banyaknya orang yang memilihi menjadi self-employed person atau freelancers, atau menjadi independent workers yang tidak bergantung secara permanen pada sebuah organisasi (kantor).
Gig Economy merujuk pada sebuah situasi dimana seseorang mengerjakan beragam order dari pemberi pekerjaan, tanpa terikat kontrak secara permanen. Para pelakunya acap disebut sebagai freelancer, self-employed worker, atau pekerja independen.
Ditengah ledakan internet, kini tampaknya makin banyak orang yang memiliki hasrat untuk menjalani gig economy. Data dari survey yang dilakukan Gallup Worlwide (2014) menyebut ada sekitar 30% dari total orang yang bekerja yang menyebut dirinya sebagai self-employed workers, dan angka itu terus tumbuh dengan cukup pesat.
Selain imbalan finansial, motivasi lainnya untuk menjalani Gig Economy adalah fleksibilitas waktu kerja dan sejumlah pekerjaan bisa dikerjakan dari rumah.
Fleksibilitas waktu kerja artinya kita bisa mengelola waktu kerja kita dengan leluasa. Saat order pekerjaan banyak, maka durasi kerja bisa sangat tinggi, bahkan lebih tinggi daripada karyawan permanen. Namun ada kalanya, saat order pekerjaan tidak begitu banyak, maka jam kerja menjadi lebih longgar (kita bisa bebas tidak kerja, tanpa harus mengajukan ijin cuti).
Bagi para pekerja di kota-kota besar yang tiap hari harus menghadapi kemacetan yang kian memburuk, maka peluang untuk bisa bekerja dari rumah merupakan sebuah hal yang amat dinanti.
Tanpa terjebak kemacetan tiap hari, maka produktivitas kerja justru bisa menjadi lebih tinggi, dan kondisi tubuh kita akan lebih fresh (sebab tak harus berdempeten terus tiap hari di jalanan atau di Kereta Api dan Busway yang penuh sesak).
Pada sisi lain menjadi Self-Employed Person (Independent Worker) dalam sebuah Gig Economy juga merupakan penegasan bahwa Anda benar-benar penentu nasib Anda sendiri.
Jika hasil kerja Anda buruk, Anda tidak bisa mengelak atau bersembunyi dibalik dinding birokrasi seperti dalam sebuah kantor perusahaan. Saat itu juga dengan seketika, order dan otomatis income Anda akan anjlok dan terpelanting jatuh dan menurun.
Beragam profesi independen dalam Gig Economy menjanjikan income yang juga melimpah dan bisa membawa Anda dalam kebebasan finansial.
Berikut sejumlah contoh profesi self-employed dalam Gig Economy :
Konsultan Manajemen
Trainer Bisnis
Desainer Grafis
Desainer Web
Programmer
Penerjemah
Penulis Materi Iklan
Penulis Buku
Fotografer Pernikahan
Konsultan Pernikahan
Videografer dan Editor
Arsitek
Agen Sales Properti
Agen Sales Asuransi
Youtuber
Selebgram
Professional Blogger (Full time Blogger)
Jasa SEO (Search Engine Optimation)
Jasa Social Media Marketing
Jasa Analisa Saham
Jasa Konsultasi Pajak dan Keuangan
Jasa Riset Pemasaran
Jasa Pembuatan Job Des dan SOP
Jasa Pembuatan Press Release
Jasa Tutorial Bisnis
Jasa Tutorial Pendidikan
Jasa Pembuatan Materi Presentasi
Jasa Privat Perjodohan
Dan lain-lain
Kalau Anda lihat sampel profesi dalam Gig Economy diatas, maka banyak diantaranya yang memiliki potensi penghasilan yang melimpah.
Sebut misalnya profesi sebagai trainer bisnis. Saat ini rata-rata professional fee untuk seorang trainer bisnis adalah sekitar Rp 20 juta untuk setiap mengisi training selama satu hari. Jika ia mendapatkan order 3 kali saja dalam sebulan, maka income bisa mencapai Rp 60 juta (kebetulan ini salah satu profesi yang saya tekuni, selain juga menjadi konsultan manajemen).
Atau menjadi fotografer pernikahan misalnya. Rata-rata tarif fotografer yang kategori sedang, saat ini bisa mencapai Rp 10 juta per paket. Jika sebulan ia mendapatkan 4 order, maka ia bisa mendapatkan gross income sebanyak Rp 40 juta.
Demikian juga penyedia Jasa SEO atau Jasa Penerjemah yang bisa menjual profesinya dengan laris, maka penghasilannya juga bisa puluhan juta per bulan.
Darmanto, salah satu rekan saya yang bekerja sebagai penyedia Jasa SEO bisa menghasilkan order hingga Rp 50 juta per bulan. Sementara rekan saya lainnya, Mike Damayanti, bekerja sebagai freelancer jasa penerjemah dan banyak mendapatkan klien dari perusahaan multinasional. Ia bisa meraih income hingga Rp 35 juta/bulan (padahal kerjanya 100% hanya dari rumah).
Pertanyaannya sekarang adalah : bagaimana cara menjalani Gig Economy atau menjuadi “self-employed” secara sukses? Tahapan apa yang harus dilakoni agar Anda bisa menerima income hingga Rp 50 juta per bulan dari profesi yang Anda jalani dalam sebuah sistem Gig Economy?