Opportunity Cost : Kesalahan Terselubung yang Bisa Menghancurkan Sejarah Hidup Anda

Opportunity cost mungkin secara sederhana bisa dipahami seperti ini : kerugian fatal yang terjadi gara-gara kita tidak melakukan sesuatu. Atau juga seperti ini : kerugian masif yang terjadi lantaran kita melakukan sesuatu yang keliru selama bertahun-tahun.

Dan kabar muramnya : begitu banyak jalan sukses menjadi lenyap karena kita terpeleset dalam blunder opportunity cost yang masif. Atau kita begitu terlambat menggapai keberhasilan (mungkin setelah mendekati usia pensiun) hanya karena kita tidak sadar dengan jebakan opportunity cost.

Di pagi yang cerah ini kita mau mengulik serangan opportunity cost ini. Sebab, kita semua, mungkin hingga hari ini telah lama tenggelam dalam blunder opportunity cost yang melenakan.

Sejatinya, ada banyak contoh opportunity cost bertebaran disekeliling kita : dalam dunia sekolah, dunia kerja dan juga dunia keuangan pribadi kita.

Dalam dunia kuliah, contohnya melimpah. Ada orang yang kuliah teknik sipil selama 5 tahun. Setelah lulus jadi pedagang batik. Ada orang kuliah hukum, setelah lulus jadi sales asuransi. Ada anak lulus fakultas pertanian, lalu bekerja di pabrik sepatu.

Itu semua adalah contoh opportunity cost yang masif : waktu belajar selama 4 – 5 tahun di kampus menjadi hilang sia-sia. Waktu 5 tahun yang krusial digunakan untuk belajar sesuatu yang kelak tak lagi terpakai secara optimal (atau bahkan tidak terpakai sama sekali).

Lalu kenapa harus spend waktu yang begitu panjang (hingga 5 tahun lamanya) untuk sebuah kesia-siaan? Waktu 5 tahun yang teramat berharga menjadi mubazir (mungkin ini kenapa dulu Steve Jobs, Bill Gates dan Zuckerberg memilih D.O : mereka mungkin sadar akan bahaya opportunity cost itu).

Dalam dunia kerja, contohnya juga melimpah. Ada teman yang 8 tahun kerja di tempat yang sama, dan karirnya stuck : tidak bergerak kemana-mana. Stagnasi karir selama 8 tahun itu adalah opportunity cost yang mahal bagi dia. “Periode yang hilang” dalam sejarah hidupnya. Jika ia berani pindah ke perusahaan yang lain yang tumbuh, mungkin karir dia akan jauh lebih baik.

Ada juga contoh lain : seorang manajer berhasrat memiliki bisnis sampingan. Ide bisnis sudah dirancang, dan observasi pasar menunjukkan potensi sangat menjanjikan. Hanya soalnya : ide bisnis yang keren itu tidak pernah ia eksekusi (mungkin lantaran terlalu banyak dipikir, dianalisa, dipikir lagi, dianalisa lagi).

4 tahun sudah berlalu, dan ide bisnis itu tak jua kunjung di-jalankan. Dan sepanjang masa 4 tahun ini, ide bisnisnya sudah keburu dijalani oleh orang lain yang punya ide sama dan sukses. Opportunity cost yang mahal bagi si manajer itu. Kini ia hanya bisa manyun.

Dalam bidang keuangan personal, banyak sampel juga. Ada orang yang punya tabungan 200-an juta. Ia lalu memutuskan untuk mengambil kredit mobil Mitsubishi Pajero Sport (keren dong). Rekannya punya tabungan yang hampir sama. Hanya ia lebih memilih menggunakan uangnya untuk membeli reksadana saham.

Apa yang terjadi 3 tahun kemudian? Nilai reksadana temannya itu naik hampir 100%. Sementara mobil Pajero-nya yang keren itu mengalami depresiasi (mungkin sekitar 30% dari hari belinya). Dari contoh ini kita bisa melihat : siapa yang mengalami opportunity lost yang masif.

Dari beragam sampel diatas, kita bisa melihat opportunity cost terjadi karena dua hal. Yang pertama : salah mengambil pilihan. Yang kedua : tidak berani mengambil pilihan.

Apapun jenisnya, jebakan opportunity cost ini yang acap membuat jalan sukses kita menjadi buram dan redup. Kita tidak meraih sukses dan tidak berhasil merajut kemakmuran yang melimpah bukan karena kita bodoh atau lantaran tidak punya skills.

Kita acapkali gagal lantaran kita terpelanting dalam jebakan opportunity cost yang teramat panjang dan sering tanpa disadari.

Dan sialnya, ketika sadar, kita tetap membiarkan diri dalam kubangan opportunity lost itu, dan menikmatinya hingga entah sampai kapan.

Happy Monday, my friends. Discover Your Opportunity. Discover Your Future Life.

Photo credit by : Leland Fransisco at Flickr.com

Related Post

Menangis Dikejar-kejar Debt Collector demi Mewujudkan Passion Yeah, hidup mungkin akan terasa indah kalau saja kita bisa bekerja mencari sekeping nafkah sesuai dengan passion yang kita miliki. Bekerja mencari na...
Kenapa Karir dan Gaji Anda Stuck alias Tidak Naik-naik? Ya, banyak orang yang kadang mengeluh pada saya : kenapa ya karir dan gaji saya stuck alias tidak naik-naik? Pertanyaan yang menarik. Sebab kegagal...
Lion Air : Dilema antara Ambisi Bisnis dan Safety Management Insiden nyemplungnya pesawat Boieng 737 seri 800 milik Lion Air tak pelak menempatkan airline agresif itu dalam sorotan dunia penerbangan global. B...
48 comments on “Opportunity Cost : Kesalahan Terselubung yang Bisa Menghancurkan Sejarah Hidup Anda
  1. pertanyaannya bung Yodhia : apakah untuk mengetahui kita terjebak dalam opportunity cost adalah dengan masuk ke dalamnya terlebih dahulu? jika ya, bagaimana bisa segera keluar dari jebakan tersebut sedini mungkin? apakah passion yang kuat adalah salah satu cara menghindari jebakan opportunity cost tsb? thanks atas pencerahannya.

  2. ah abstrak banget opportunity cost ini. dalam satu sisi tentang tidak match nya lulusan dengan bidang kerja yang dijalani kadangkala berkaitan juga dengan lapangan kerja yang tak ada.

  3. Awesome Mas Yodhia, benar-benar menggugah sekali artikel ini. Saya juga ingin menambahkan opportunity cost yang juga sering kita alami bahkan sering kita sesali saat tua; yaitu di urusan hubungan percintaan.

    Bertahun-tahun terbutakan cinta pada ornag yang salah, eh akhirnya berpisah. Tanpa sisa.

    Ya, semoga dari tulisan Mas Yodhia ini bisa memberikan kebermanfaatan buat temen2 semua, khususnya saya yang sedang membangun hidup lebih indah.

    Salam sukses Mas,
    Ketemu lagi Senin depan. 😀

  4. hemmmm…. maka itu ada juga idiom tentang Saat Mulai Berwirausaha. “Jika sudah usia 40 tahun masih karyawan juga, belum jadi pemegang keputusan, lebih baik segera ubah haluan jadi Wirausaha”
    begitu????

  5. Dalam kondisi seorang sarjana hukum yg berprofesi sbg sales namun dia lebih sukses dibandingkan dengan teman2nya yg berprofesi dibidang hukum apakah termasuk kategori opportunity cost juga?

  6. andai waktu 4 tahun yg di gunakan untuk mengejar ilmu hukum di gunakan untuk belajar sales pasti lebih dahsyat 🙂

  7. selamat pagi bung, apa yang anda sampaikan sangat mengena pada saya, terkadang kita selalu banyak berpikir ini itu dsb, tanpa cepat mengambil action. akhirnya ide dan pilihan kita diambil oleh yang lain. sungguh opportunity cost bangeeeeet. salam sukses.

  8. @wahyu, poinnya kita tdk apa yg terjadi didepan kita belajar hukum, ternyata rejeki kita ada dibidang penjualan, belum tentu dia belajar bidang sales bs sesukses ketika seseorang tsb berpendidikan hukum:)
    So opportunity cost td jadinya apa?

  9. Bagus sekali artikel pagi ini…

    mohon masukanya judul buku apa yang harus dibaca agar tulisan ini menjadi lebih merasuk dalam diri kita ?

    Salam First Execution !!!

  10. Selamat pagi bung Yodhia, saya sudah lama mengikuti blog anda. dan akhirnya pagi ini saya ikutan Comment

    Terjebak dalam Opp Cost (OC), banyak orang yang tidak menyadari tapi barangkali juga menyadari tapi tidak berani mengambil keputusan.

    saya sendiri terjebak dalam bisnis kecil yang sebenarnya sangat menguntungkan, selama hampir 10 thn saya jalani dan saya hanya mampu beli rumah dan membiayai kulaih S2 yang cukup mahal dan menikah tentu saja.

    bagi kebanyakan orang itu bukan OC tp saya merasa punya potensi lebih besar dari hanya sekedar pemain kecil.

    Awal tahn ini saya hentikan bisnis kecil saya yg menguntungkan dan sekarang sedang non job dan merancang bisnis yang lebih berpotensi menjadi besar dan mudahan mampu menutupi OC saya selama 10 tahun terakhir.

    Sukses selalu bung Yod. semoga selalu menginspirasi….

  11. bila seseorang berada di dalam “zona nyaman” untuk waktu 5-6 tahun apakah itu bisa dikatakan sebagai opportunity cost ? atau bagaimana cara kita bisa membedakan berada didalam “zona nyaman” dan berada didalam jebakan opportunity cost ?

    terima kasih…

  12. Saya kurang sependapat dalam beberapa hal :

    1. Mengenai kuliah yang berbeda jurusan dengan pekerjaan. Kuliah itu sebenarnya lebih ke pembentukan pola pikir dan soft skill, bukan pemenuhan skill. Di Bank sudah dari dulu yang dicari adalah sarjana dari berbagai jurusan, karena yang dicari adalah softskill, manajemen diri, dan pola pikirnya, bukan jurusannya. Perusahaan menganggap skill bisa dilatih, asalkan punya pola pikir dan soft skill yang bagus.

    2. Misalnya Sarjana hukum yang menjadi sales sebenarnya tidak terlepas dari konsep rejeki, bisa jadi di fakultas hukum lah dia mendapat ide dan passion mengenai marketing. Atau bahkan dia punya kelebihan, mampu memahami kebutuhan orang2 hukum, dan dia menyediakan kebutuhan mereka, dan komunikasi empatik yang memahami konsumen.

    3. Mengenai pembelian pajero, juga kurang sepakat. Jika dipandang dari sedikit sudut pandang berbeda pembelian pajero juga merupakan investasi (menaikkan image dan kepercayaan terhadap client, menaikkan jumlah kontrak yang disepakati, dsb). Dan tentu saja orang yang cerdas tidak menghabiskan uangnya untuk investasi ke mobil. Pointnya sebenarnya adalah bukan pada objek investasi, tapi KESEIMBANGAN, berapa % untuk investasi mobil, berapa % untuk reksadana, berapa % untuk sedekah, dsb. Si A idealnya bukan investasi mobil saja, tapi juga reksadana. dibanding B yang hanya reksadana, si A sudah menikmati keuntungan hasil investasinya dari mobil berupa produktivitas meningkat, dan nikmatnya berkendara bersama keluarga dengan mobil.

    Dan SAYA SETUJU dengan Ide yang belum di eksekusi : ini betul2 kesalahan fatal.

  13. Roni (6) dan Wahyu (7) : apa yang disampaikan wahyu itulah esensi dari opportunity cost.

    Kalau saja kita belajar ilmu yang pas sejak awal, hasilnya akan cenderung lebih optimal. Probabilitas keberhasilan akan lebih tinggi jika ilmu yang kita pelajari selama 5 tahun itu mendapat arena yang pas dan benar-benar diaplikasikan dalam pekerjaan.

    Kasus ketidaksesuai jurusan waktu kuliah dengan profesi pekerjaan = secara lugas bisa dikatakan kemubaziran atau opportunity lost yang mahal. Akumulasi pengetahuan tidak berjalan secara optimal.

  14. terima kasih bung yodh atas artilenya. Ini berdasarkan relefleksi diri saya sendiri, yang terjebak OC karena tidak mampu membuat visi misi hidupnya secara jelas.

    Mereka mengalir mengikuti jalan hidup tanpa arah yang pasti. Kalau menurut orang HRD, yang terjebak OC tidak mampu melihat DC (Disc Profile) diri sendiri, atau menurut pakar MI (Multiple Intelegent) kegagalan kita sekarang dalam karir karena bidang yang kita jalani tidak sesuai dengan kecerdasan kita.

    Saya meraksan betul manfaat DC dan MI tersebut ketika di iriskan dengan pekerjaan sekarang. Atau juga melihat kegagalan dan kesusksesan orang lain.

  15. Arya (2) dan Al Kautzar (13) : opp cost dapat dihindari jika kita punya visi masa depan yang jelas, direncanakan dengan seksama; dan memang jika memungkinkan visi itu sesuai dengan passion kita.

    Dengan visi hidup yang jelas; maka setiap pilihan yang akan kita ambil bisa memaksimalkan peluang dan sekaligus meminimalkan opp cost yg terlalu mahal.

    Miftah Rido (14) : wah ya ndak gitu dong. Kalau fokus pada soft skills, maka sebaiknay IPB, ITB dan semua penjurusan di kampus2 itu dihapuskan saja …. 🙂

    Semua kampus diubah saja namanya jadi “Universitas Soft Skills”.

    Ilmu kedokteran, ilmu perbankan, ilmu mesin, ilmu komputer ndak perlu dipelajari di kampus; sebab yang penting soft skills 🙂

  16. Apakah tidak ada jalan atau cara lain? Mungkin pertanyaan ini bisa lebih mengeksplor kemampuan kita. Trims, peringatannya Pak Yodh!

  17. Inilah yang disebut dengan realita VS idealita.

    Hidup tidak selalu mulus dengan idealita, hidup harus jalan terus, oleh karena itu idealita mau nggak mau harus kompromi dengan realita, tetapi…..memang betul…idealita harus terus diperjuangkan….karena sesuai dengan pikiran sehat dan hati nurani yang bersih.

    Satu lagi ada pelajaran dari kehidupan, bahwa setiap titik-titik bagian kehidupan kita…pastilah ada hal-hal yang positif dan akan sangat berguna pada bagian kehidupan lain di masa-masa depan.

    Salam segomegono.

  18. Opportunity Cost, mengenai hal tersebut sebenarnya ada di penilaian dan dari sisi mana dilihatnya, ambil contoh mobil pajero, memang mobil itu mengalami penyusutan harga tetapi rasa bahagia karna anda memilikinya, rasa bahagia karna anda mempunyai pengalaman mengendarainya dan nilai lain yang di dapatkan dari mobil itu apakah bisa dibeli?…

    sedangkan reksa dana saham pun tergantung, mengenai saham juga demikian, tergantung siapa orang yang menilai dan dari kacamatra mana dinilai nya

    Mengenai Sarjana Hukum bekerja pada Sales Asuransi, hal tersebut juga kemungkinan bukan karna dia tidak berani mencoba di bidang hukum tapi mungkin ada alasan lain sehingga prinsipal memilih memutar haluan

    Terima Kasih

    AI
    Advocate

  19. waooow, mengguncang…inpiring artikel bung yod…menghujam…jadi pengen nangis mengingat masa – masa kuliah dulu…

    betapa banyak orang yang menyia-nyiakan waktunya untuk hal- hal yang merugikan…

    moga makin banyak yang insyaf.

    hemat saya agar apa yang anda lakukan tidak terbuang percuma tanpa menghasilkan sejarah emas dalam hidup anda ,lakukan apa yang menjadi passion anda

    bingung seperti apa passion, saya mengkategotikannya sbb…

    1. passion itu adalah sesuatu yang anda sukai.
    2. tanpa dibayar sekalipun anda mau melakukannya.
    3. dan ini yang terpenting, sesuatu yang anda sukai itu kedepannya harus bisa menghasilkan rupiah….

    great Mr.yod..

  20. Benar semua jalan itu harus ada pembimbingnya, yang jelas kita tidak boleh mundur dari apa yang telah kita putuskan, cari jalan keluar terbaik. karena tidak ada hidup tanpa kepastian.

  21. menyia-nyiakan penawaran kesempatan jabatan yang lebih tinggi dengan penghasilan yang lebih rendah dari posisi sebelumnya, apa termasuk opp cost..

    sebenarnya yang lebih penting itu, jabatan atw penghasilan yaa…??

  22. Setahu saya, opportunity cost tu dilihat saat mengambil keputusan. Misal saja ada anak teknik dihadapkan 2 pilihan.

    Jadi sales besok dgn gaji 2jt atau lanjut nganggur (dgn waktu tak terprediksi) dgn harapan ada pekerjaan cocok di masa depan.

    Jika terus menunggu, opportunity costnya jelas, 2jt kali sekian bulan (tahun) selama ia menunggu.

    Jika sarjana teknik jadi pedagang batik saya pikir bukan oportunity cost jika dilihat dari pendidikannya, krn saat memilih jurusan ia tidak tahu di masa depan ia akan dihadapkan pada pilihan jadi pedagang batik.

    Opportunity costnya mungkin pada pilihan setelah lulus, jika ia rela menunggu kerjaan tepat dan tidak mengambil kesempatan berdagang batik, ia kehilangan kesempatan keuntungan berdagang sekian jt/bln.

    Pada umumnya, dgn resource terbatas (dah kepepet duit), orang akan merelakan opportunity cost yg sukar diprediksi, durasi berapa lama bakal nganggur sblm dapat kerjaan pas misalnya….

  23. Mantap Pak Yodhia. Ini pelajaran pertama saya waktu belajar Mikro Ekonomi di tahun pertama kuliah dulu. Sebuah konsep untuk membandingkan cost sebuah tindakan dengan tindakan lainnya.

  24. “Sesuai firman Tuhan ” Tuhan menciptakan apapun di dunia ini tida ada yang sia – sia “.

    Yang terpenting di sini adalah asas manfaat. Dari keputusan itu bisa dilihat dari niat dan tujuannya. Niatnya harus benar. Tujuannya harus benar. Caranya harus benar.

    Momentumnya harus benar. Nah kalau dari itu semuanya sudah benar insya Allah yg namanya makhluk “OC/L” oportunit cost or lost bisa dihindari.

    jadi mulai sekarang Niatkan, kerjakan dg benar. wallohu alam bisssowab . . .

  25. overall setuju, hanya ‘salah jurusan’ saat kuliah yg sedikit kurang sependapat.

    well.. di Indonesia Universitas mana sih pak yang bener2 bisa ngasih Hard Skill yang sebener-benernya Hard skill buat terjun di bidangnya?
    cuma segelintir..

    menurut saya jurusan yg bener-bener punya disiplin keilmuan kuat di Indonesia cuma Kedokteran, Akuntansi dan sebagian Jurusan Engineering.

    selebihnya Jurusan lain adalah “Jurusan Google” alias ilmu yg dipelajari bisa ditekuni otodidak via search engine populer itu.

    Note : saya sendiri lulusan Fakultas Science di PTN yg sudah punya nama, dan 90% lebih temen seangkatan saya bekerja diluar bidang keilmuannya selama kuliah.
    alasannya jelas, belum semua jurusan di Indonesia punya ‘pasar’
    #TrueStory

  26. Ulasannya mantap Mas. Tapi saya juga cendrung kurang sependapat kalau dianggap bahwa ketidaksesuaian antara jurusan yang diambil waktu kuliah dengan pekerjaan yang ditekuni dianggap Opp Cost.

    Karena sebetulnya kuliah adalah proses pematangan diri untuk menghadapi kehidupan yang real. Dan betapa banyak orang yang bekerja saat ini tidak sesuai dengan jurusan ketika kuliah.

    Pak Mario Teguh pernah bilang dalam acara MTGW bahwa persentase orang yang bekerja sesuai dengan jurusannya sangat kecil.

    Sehingga jangan heran kalau ada sarjana pertanian yang bekerja di Bank, atau sarjana Hukum. Yang penting adalah Do what you love and love what you do kata Steve jobs.

  27. mantab sekali pak yodia. tulisan yang inspiratif…

    sudut pandang sebenarnya menjadi acuan bagaimana valuasi opportunity cost itu dinilai.

    pastinya memang beda-beda, tapi tentu saja, hati nurani si pemilik akan mengatakannya kita kehilangan atau memanfaatkan dengan baik opportunity cost kita.

    kata “Passion” sebagai pembenaran bahwa kita tidak cocok dengan ini dan cocok dengan yang itu sering menjadi alasan kita menghindari ketidaknyamanan.

    passion itu dirasakan, bukan di omongin doang..

    salam mabur dari semarang

  28. Artikel yang mantab. Satu hal lagi, sama2 spending sih, misalnya ada tabungan 300jt beli mobil atau 300jt DP rumah. Banyak yang beli mobil akhirnya ga pernah punya rumah sendiri…alhasil harga rumah meroket ke ujung langit hehe….

  29. Waduh mas, baca ini saya stress juga

    Artinya lebih 15 tahun saya terjebak OC yang super tinggi.

    SMA masuk jurusan fisika, kuliah di Kesejahteraan Sosial dan Psikologi dan MM. Kerja di HRD, walau akhirnya saya merasa cukup sukses di pekerjaan saya.

    Tapi akhirnya jadi pedagang online jua saya akhir menemukan karir paling sukses..

    Alhamdulillah …

  30. Berhubung aku pernah baca masalah semacam ini yang di rangkum dalam buku spencer johnson di peaks and valley juga ada di buku seth godin yang the dip.

    Sebenernya dalam kita mengambil sebuah keputusan apakah hal itu berujung salah atau benar, sebenarnya mindset kita yang mengatur hal tersebut, ngga ada orang yang selalu benar dalam hidupnya orang pasti pernah salah juga, orang pernah diatas lalu juga jatuh kebawah begitu terus, ngga mungkin juga orang hidupnya datar pasti membosankan.

    Toh mau orang lain bilang apa kek, kita buang waktu dengan salah mengambil jurusan atau masalah pelik lainnya.

    Itu semua tergantung gimana kita nangepinnya, kalau kita positif thinking dalam setiap kesempatan tersebut kita pasti bisa belajar dari kesalahan tersebut, begitu pun ketika kita merasa berhasil jangan terlalu jumawa bersiap-siap menghadapi jurang di kemudian harinya.

    jangan berfikir sesuatu menjadi lebih baik ketika kita di atas atau berfikir sesuatu menjadi lebih buruk ketika kita dibawah

  31. menurut saya OC tergantung bagaimana kita menyikapi suatu situasi.

    Orang lain mungkin menganggap kita terjebak dalam OC, tetapi kita menganggap ini bukanlah OC

    Intinya di negara kita yang penting kita harus masuk dulu dalam “zona aman” (kebutuhan keluarga tercukupi, baik sandang pangan dan papan serta kesehatan dan pendidikan anak) baru kita berpikir untuk masuk “zona yang lebih menantang”

  32. Biar tidak salah jalan, dalam agama kami, Islam, ada yang namanya sholat istikharah, untuk memohon petunjuk jalan yang terbaik dari Tuhan.

    Selain itu, tergantung personal masing2 dalam menghadapi sebuah problematika. Jangan terlalu optimis, nanti kalo gagal bisa kecewa.

    Jangan terlalu pesimis, karena hal ini dekat dengan putus asa.

    Selalu bekerja cerdas, bekerja keras dan berprasangka baik.

    Semangat!

  33. Artikel yang mantab. Satu hal lagi, sama2 spending sih, misalnya ada tabungan 300jt beli mobil atau 300jt DP rumah. Banyak yang beli mobil akhirnya ga pernah punya rumah sendiri…alhasil harga rumah meroket ke ujung langit hehe….

  34. Biar tidak salah jalan, dalam agama kami, Islam, ada yang namanya sholat istikharah, untuk memohon petunjuk jalan yang terbaik dari Tuhan.
    Selain itu, tergantung personal masing2 dalam menghadapi sebuah problematika. Jangan terlalu optimis, nanti kalo gagal bisa kecewa.
    Jangan terlalu pesimis, karena hal ini dekat dengan putus asa.
    Selalu bekerja cerdas, bekerja keras dan berprasangka baik.
    Semangat!

  35. Opportunity cost salan besar kalau dinilai sbg biang kehancuran hidup…

    tp kehancuran itu itu berasal dari sikap kita sebagai si Keparat dan Si Bangsat..

    kalau anda gampang putus asa, gampang bosan dan susah menemukan kebahagian…andalah si keparat itu, kalau anda merasa sudah cukup puas dg diri anda, bangga dg kesuksesan dan kebaikan yg telah anda raih dan lakukan, tidak bisa melakukan introspeksi diri..maka andalah itu si Bangsat..

    jadilah orang yg selalu bisa melihat kesalahan diri lalu bertaubat, untuk berusaha tidak mengulangi dan berbuat lebih baik lagi bagi kehidupan anda..maka andalah si pemenang dan peraih kebahagiaan sejati itu…

    jd please..tidak hrs di kuantifikasi dg nilai rupiah saja tp hrs lahir batin..ingat rizki Allah yg bagi….

Comments are closed.