Jika Tokopedia dan Gojek Jadi Merger, Apa Langkah Selanjutnya?

Rencana merger antara dua raksasa unicorn Tokopedia dan Gojek tampaknya kian dekat menjadi kenyataan. Sejumlah media mengabarkan, rencana merger ini selambatnya akan diumumkan secara resmi bulan depan.

Merger dua raksasa bisnis digital ini tentu akan memberikan dampak masif, bukan saja bagi masing-masing bisnis mereka, namun juga dalam pertempurannya dengan para pesaing.

Bagaimana implikasi bisnis dari rencana merger Tokopedia dan Gojek ini? Mari kita ulas dalam sajian renyah pagi ini.

Saat ini valuasi Tokopedia sudah menembus angka Rp 140 triliun, sementara valuasi Gojek ada pada angka Rp 112 triliun. Gabungan keduanya bisa menghasilkan perusahaan dengan nilai valuasi sebesar Rp 252 triliun, sebuah angka yang sangat tinggi untuk perusahaan yang usianya masih di bawah 12 tahun. (Sebagai perbandingan valuasi Bank BNI hanya Rp 100 triliun, sementara Bank Mandiri memiliki market value sekitar Rp 290 triliun).

Yang mendorong terjadinya merger tersebut adalah Masayoshi Son dari Softbank yang juga merupakan salah satu investor besar di Tokopedia. Nama baru dari merger Tokopedia dan Gojek adalah GOTO – sebuah nama baru yang tampaknya kurang asyik. Sebutan lain seperti Gopedia terasa lebih menarik (meski kalau disingkat juga jadi Goped).

Sebenarnya tantangan terbesar dari Tokopedia adalah serbuan agresif dari Shopee yang trafiknya meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Tokopedia berdiri tahun 2009, sementara Shopee baru masuk ke Indonesia tahun Desember 2015 atau terlambat lebih dari enam tahun. Namun data terakhir menunjukkan trafik Shopee sudah sangat mendekati Tokopedia, bahkan beberapa kali sudah bisa menyalip. Ini sebuah prestasi yang luar biasa bagi Shopee, yang mesti telat hadir, namun tiba-tiba bisa melesat cepat.

Sebagai informasi, berikut data trafik kunjungan bulanan dari berbagai marketplace di tanah air untuk bulan Maret 2021 (data terkini).

Tokopedia : 126 juta

Shopee : 117 juta

Bukalapak : 33 juta (makin jauh ketinggalan)

Lazada : 28 juta

Blibli : 17 juta

Jika Tokopedia lengah, bukan tak mungkin akan kembali disalip oleh Shopee di masa depannya.

Maka rencana merger dengan Gojek ini harus dikelola dengan cermat. Sebab jika memunculkan problem baru, maka konsentrasi Tokopedia bisa terpecah, dan dengan mudah akan disalip oleh Shopee. Rencana merger memang biasanya akan memunculkan berbagai problem, mulai dari problem integrasi sistem informasi, pengelolaan karyawan dan budaya kerja, hingga perbedaan visi bisnis.

Pada sisi lain, rencana merger ini juga menjanjikan sejumlah sinergi positif yang jika dikelola dengan mulus akan memberikan dampak bagus bagi kinerja bisnis keduanya.

Berikut tiga potensi sinergi yang bisa dilakukan oleh GOTO aka GOPEDIA aka GOPED jika mereka memang jadi melakukan merger :

Sinergi #1 : Cross-Selling dan Saling Berbagi Pelanggan

Pelanggan Tokodia sudah mencapai puluhan atau bahkan ratusan juta, demikian juga pelanggan Gojek/Gofood/Gopay juga sudah tembus puluhan juta. Akan amat bagus, jika keduanya bisa saling melakukan cross-selling.

Dalam proses cross-selling, pelanggan Tokopedia didorong untuk juga rajin belanja ke Gofood atau menggunakan layanan Gosend. Sebaliknya, pelanggan Gojek/Gofood/Gopay juga diajak untuk makin sering belanja ke Tokopedia.

Bentuk cross-selling ini misal bisa dengan saling memasang info iklan di masing-masing aplikasinya. Aplikasi Tokopedia bisa dipromosikan di aplikasi Gojek, dan sebaliknya aplikasi Gojek diiklankan di Tokopedia.  

Selanjutnya, aplikasi Tokopedia juga bisa langsung dibuka via aplikasi Gojek (jadi aplikasi Gojek menjelma menjadi Super App). Ini memudahkan user yang sudah menjadi pelanggan pada kedua aplikasi ini. Hal kecil semacam ini penting dalam meningkatkan user experience.

Inisiatif cross-selling lainnya bisa berupa reward-sharing : misal pembeli Tokopedia mendapatkan reward yang bisa digunakan untuk belanja di Gofood, dan sebaliknya, pembeli Gofood dapat reward yang bisa digunakan untuk belanja di Tokopedia.

Dengan cross-selling semacam itu, maka basis pelanggan Tokopedia bisa makin meningkat, demikian juga halnya dengan basis pelanggan Gojek/Gofood.

Sinergi #2 : Pengiriman Prioritas melalui Gosend

Jika merger ini jadi, maka ke depan layanan pengiriman barang dari Gosend selayaknya akan mendapatkan prioriras utama dari Tokopedia. Sementera pilihan Grab Express dan perusahaan logistik lainnya yang menyediakan same-day delivery services, mungkin pelan-pelan bisa dihilangkan. Dengan cara ini maka, volume pengiriman via Gosend akan langsung meningkat beberapa kali lipat.

Namun metode pengiriman barang ini harus dikelola dengan amat bagus oleh Gosend, dan harga juga relatif kompetitif. Pengalaman Shopee Express harus jadi pelajaran. Layanan Shopee Express beberapa minggu ini agak bermasalah, mulai dari pengiriman yang agak telat hingga upah kurir yang terlalu murah dan akhirnya mogok kerja. Problem logistik ini amat negatif dampaknya bagi kepuasan pelanggan.

Bisnis pengiriman paket kini makin brutal. Banyak terjadi perang harga yang gila-gilaan. Bahkan ada penyedia layanan yang berani memberikan subsidi harga. Aliansi Tokopedia x Gosend harus bisa menghadapi tantangan ini dengan jitu.  

Jika merger Tokopedia x Gosend bisa mengelola sinergi logistik ini dengan EFISIEN, harga bersaing, dan layanan yang cepat, maka ke depan sinergi mereka akan bisa hasilkan win-win business bagi keduanya.

Sinergi #3 : Aliansi Gopay x Tokopedia

Setelah merger Gojek dengan Tokopedia ini, seharusnya pilihan pembayaran melalui Gopay yang akan jadi prioritas utama, dan pelan-pelan menggantikan Ovo yang kini masih ada di Tokopedia (ke depan mungkin Tokopedia harus berani melepas sahamnya di Ovo demi memberi jalan bagi hadirnya Gopay. Saat ini Tokopedia masih memegang  hingga 40% kepemilikan saham Ovo).

Jika Gopay diberi tempat utama di Tokopedia, maka pelanggan Gopay yang jumlahnya sudah puluhan juta bisa mendapatkan kemudahan jika berbelanja di Tokopedia. Sebaliknya, pelanggan Tokopedia yang jumlahnya ratusan juta harus bisa didorong untuk menjadi pelanggan baru Gopay. Jika ini terjadi, maka Gopay bisa makin mendominasi pasar uang digital masa depan di tanah air.

Selain itu Gojek juga punya saham mayoritas di Bank Jago. Melalui bank ini, maka Gojek/Gopay bisa memberikan kredit online kepada jutaan pedagang di Tokopedia yang membutuhkan modal untuk kulakan barang.  Aplikasi bank online (via bank Jago) juga bisa digunakan jutaan pelanggan Tokopedia yang ingin membayar pembeliannya dengan sistem cicilan.

DEMIKIANLAH, tiga potensi utama yang bisa dihasilkan dari merger Gojek x Tokopedia. Jika ketiganya bisa dikelola dengan mulus, maka aliansi Gopedia ini tampaknya akan sukses.

Dalam beberapa tahun ke depan, valuasi merger yang bernilai Rp 252 triliun itu akan dengan mudah menjelma menjadi Rp 1000 TRILIUN (mengalahkan valuasi bank raksasa BCA, yang hanya Rp 750 triliun).  

Selamat datang GOTO aka Gopedia aka GOPED dalam panggung bisnis Nusantara.

Laydown

Related Post

Crazy Valuation dan Misteri Cash Flow dari Tokopedia, Bukalapak dan Gojek Tokopedia, Bukalapak dan Gojek mungkin tiga online start up yang paling banyak dibicarakan dalam 3 tahun terkakhir, dalam jagat e-commerce tanah air. ...
Digital Payment War : Pertempuran antara Gopay vs OVO vs Mobile Banking Digital Payment War adalah sebuah pertempuran untuk memperebutkan masa depan pembayaran berbasis digital di tanah air. Gerakan menuju Cashless Soci...
Kenapa Valuasi Tokopedia Bisa Tembus Angka Fenomenal Rp 100 Triliun? Pada awal Desember lalu, Tokopedia kembali mendapatkan ronde pendanaan (funding series) yang ke tujuh kalinya. Investor kali ini tetap Softbank (Ventu...
One comment on “Jika Tokopedia dan Gojek Jadi Merger, Apa Langkah Selanjutnya?

Comments are closed.