Sel otak kita itu tak pelak merupakan salah satu pilar kunci untuk membuat kita bisa meraih sukses.
Saat sel otak kita macet, stuck dan ambyar, maka otomatis daya kreativitas dan problem solving skills kita juga akan menjadi termehek-mehek.
Faktanya, begitu banyak orang yang stagnan nasibnya karena memang daya kemampuan otaknya amat terbatas. Karena sel otaknya mampet, maka kreativitas untuk melahirkan solusi perubahan nasib menjadi lenyap.
Hobi tak pelak merupakan salah satu aktivitas yang paling menyenangkan untuk kita lakukan. Sebab hobi memang maknanya sesuatu yang kita gemari dan kita sukai.
Saat seseorang tenggelam dalam hobi yang dia lakukan, maka orang ini bisa lupa waktu atau bahkan menjadi lupa dengan segalanya.
Lalu apa saja hobi yang selayaknya kita tumbuhkan agar hidup kita menjadi lebih sukses dan produktif?
Perusahaan-perusahaan high tech raksasa seperti Tesla, Google, Netflix hingga Apple kini tak lagi mensyaratkan lulusan S1 (college degree) untuk bisa mendaftar lowongan kerja yang mereka sediakan.
Begitu pengumuman yang pernah dirilis Elon Musk. Manajer HRD di Google dan Tesla dan juga Apple juga menyatakan hal yang sama. Seseorang kini tidak perlu lagi lulus S1 untuk bisa mendaftar menjadi highly capale employees di berbagai perusahaan terkemuka itu.
Apakah itu artinya gelar dan ijasah S1 akan menjadi kian tak relevan di era Revolusi Industri 4.0 ini? Apakah gelar S1 itu sesungguhnya sesuatu yang “over-rated”?
Lahir sebagai anak bodoh dari keluarga kaya ternyata lebih menguntungkan daripada lahir sebagai anak cerdas dan pintar tapi dari keluarga miskin. Sebuah fakta yang rada muram dan layak direnungkan.
Penelitian itu memang dilakukan di Amerika, namun tampaknya hasil serupa juga akan terjadi jika riset itu dilakukan di berbagai negara lainnya di dunia, termasuk di Indonesia.
Mentalitas playing victim pada dasarnya adalah sikap seseorang yang suka menjadikan dirinya sebagai “korban”, dan cenderung selalu menyalahkan pihak lain jika terjadi masalah. Misal jika nasib dirinya stuck, maka orang ini akan cenderung menyalahkan keadaan, dan merasa dirinya adalah korban yang tak berdaya.
Contoh yang sangat klasik dari cerminan mentalitas playing victim adalah seperti ini. Misal saat karir dirinya mentok, dia langsung bilang : yah saya kan gak kenal baik dengan big boss sih; atau yah, saya gak punya kenalan orang dalam sih.
Atau kalau melihat orang lain yang karena prestasinya bisa bekerja di perusahaan bonafid, orang-orang seperti ini langsung komen, yah soalnya dia punya kenalan orang dalam sih…… (Saya suka garuk-garuk kepala kalau mendengar komen semacam ini).
Atau contoh lain lagi seperti ini. Saat mau bisnis tapi gak pernah jalan-jalan, alasannya : yah saya nggak punya ortu kaya yang bisa modalin saya sih. Atau : saya nggak punya koneksi orang-orang yang punya duit sih.
Lalu minggu lalu, kita mengulik satu jenis habit yang juga amat penting bagi kebugaran otak dan tubuh kita yakni healthy eating habit.
Dalam sajian pamungkas tentang Serial Habit ini kita akan membahas satu habit ajaib yang juga secara fundamental bisa membawa perubahan yang masif dalam perjalanan hidup kita.
Apa satu habit ajaib ini? Dan kenapa dampaknya sangat fundamental? Mari kita ulas sambil ditemani segelas jus belimbing tanpa gula.
Dalam sajian kali ini kita akan mengulik dua jenis habits kunci yang akan membuat Anda makin produktif, panjang umur dan kesehatan mentalmu terjaga dengan optimal.
Saat ini makin banyak anak muda yang mudah merasa stress, stuck dan acapkali terjebak dalam negative over-thinking. Pikiran yang stress dan stuck tentu saja bisa membuat nasib hidup menjadi stagnan. Sementara negative over-thinking hanya akan membuat kita makin pesimis menatap masa depan.
Bukan itu saja. Pikiran yang stress dan terjebak negative over-thinking dalam jangka panjang akan membuat kita mudah menyerah melakukan sebuah action dengan tekun.
Stress dan negative over-thinking akan membuat willpwer dan daya resiliensi kita makin rapuh. Kita tak akan lagi bisa menjalani sebuah action dengan konsisten.
Dan semua ini bahaya. Kenapa? Sebab jalan panjang meraih sukses amat membutuhkan daya resiliensi yang kuat, ketekunan yang tangguh, dan kecakapan melakukan sebuah action dengan konsisten. Saat semua bekal ini rapuh, maka masa depan kita bisa tenggelam dalam duka nestapa yang berkepanjangan.
Kabar baiknya adalah ini. Kita bisa menghindari kondisi yang muram itu dengan menjalani dua habit kunci berikut ini. Mari kita bedah satu demi satu.