Ya, kenapa banyak orang India yang jadi CEO perusahaan rakasasa dunia? Kita tahu, Google, Microsoft dan IBM adalah tiga perusahaan teknologi kelas dewa; dan semuanya memiliki CEO orang India.
Secara spesifik berikut beberapa sampel orang India nehi-nehi yang menjadi CEO dari sejumlah perusahaan raksasa dunia.
Bagaimana cara sukses dan survive di era yang katanya serba modern ini? Ternyata ada dua cara kuno yang usianya ribuan tahun, dan efektif untuk menaklukkan tantangan kehidupan digital di era modern ini. Apa saja dua cara klasik yang powerful ini? Mari kita telisik dalam sajian pagi ini, sambil ditemani sarapan nasi uduk.
Pertama-tama harus dipahami : agar sukses di era modern ini, kita kudu memiliki kekuatan fokus dan rentang atensi yang panjang. Rentang atensi maksudnya adalah kita punya kemampuan untuk menekuni sebuah action secara mendalam dan atensi yang panjang. Tanpa kekuatan fokus dan attention span yang panjang, maka kita akan mudah menyerah dalam perjuangan melakukan action. Tanpa kemampuan attention span yang prima, kita akan gagal melakukan action secara KONSISTEN.
Lalu bagaimana cara menumbuhkan kekuatan fokus dan rentang atensi kita, agar mampu membantu kita menjalani sesuatu dengan tekun dan konsisten? Kita bisa menumbuhkannya dengan latihan menguatkan otot fokus dan rentang atensi kita (attention muscle).
Seperti halnya kerja otot manusia, fokus dan rentang atensi itu ternyata punya pola kerja yang mirip. Jika tidak pernah dilatih maka otomatis fungsinya akan makin melemah. Sialnya, selama ini otot fokus dan rentang atensi kita malah dilatih oleh layar smartphone untuk hanya fokus pada hal-hal yang super pendek dan dangkal. Otomatis kekuatan otot fokus dan rentang atensi kita juga akan makin pendek dan melemah.
Ya benar, dalam beberapa dekade mendatang, Jepang dan Korea Selatan akan kehilangan 50% penduduknya. Jumlah penduduk mereka akan anjlok hingga 50%. Lenyap dan tak tergantikan.
Krisis demografi seperti itu benar-benar akan memberikan dampak kelam bagi ekonomi mereka. Alasannya simple : saat sebuah bangsa kehilangan 50% penduduknya, maka omzet ekonomi mereka juga akan kolaps pada angka yang relatif sama. Pangsa pasar mereka akan anjlok 50%. Dan output ekonomi mereka juga akan mengalami kejatuhan yang signifikan. Siapa lagi yang akan memproduksi dan membeli produk mereka saat 50% penduduknya hilang tak berbekas.
Saat ini krisis demografi kelam seperti itu telah pelan-pelan menggerogoti kekuatan ekonomi Jepang. Menggerus pelan-pelan tapi dampaknya amat brutal. Misal : di pinggiran kota Jepang, kini banyak desa dan kecamatan yang menjelma menjadi desa hantu. Sebab literally, semua penduduknya punah. Ada ribuan rumah yang ditinggal kosong, sebab penghuninya wafat dan tak ada lagi generasi penerusnya. Kota-kota yang mati semacam ini pelan-pelan akan menyergap beragam kota di Jepang dan Korea.
Lalu apa solusinya? Apa yang kudu kita lakoni agar kita tidak terlalu sering scroll-scroll layar hape hingga kadang lupa waktu?
Disini ada tiga langkah praktikal yang bisa dilakukan untuk menghindari dari smaetphone culture yang begitu hegemonik merasuk dalam beragam sendi kehidupan kita.
Tiga langkah praktikal ini bisa disingkat dengan sebutan 3R atau akronim dari Reduce, Replace dan Reinvent. Mari kita jelajahi satu demi satu tiga kata kunci ini.
Apa hubungannya kekuatan otak kita dengan smartphone addiction? Ternyata hubungannya sangat erat.
Beragam studi ilmiah menunjukkan cara ampuh untuk mengasah kekuatan otak kita itu adalah ketekunan untuk menjalani sesuatu secara mendalam dan dalam durasi yang cukup lama. Di dalam proses itu dibutuhkan kekuatan konsentrasi dan fokus perhatian yang mendalam pada apa yang dikerjakannya (Duckworth, 2017). Otak kita akan mengembang secara positif saat kita melakukan proses ini.
Selain itu, kekuatan mental dan pikiran kita akan makin tangguh saat kita bisa melakukan apa yang disebut sebagai “delayed gratification” (Mischel, 2006). Atau kecakapan untuk menunda kesenangan seketika atau reward yang bersifat instan.
Delayed gratification adalah kemampuan untuk mau menekuni proses yang panjang dan melelahkan, mau menundak kesenangan seketika, demi tercapainya tujuan di kemudian hari. Pendeknya delayed gratification adalah kemampuan untuk berakit-rakit ke hulu, berenang kemudian, atau bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian.
TIDAK sedikit jalan menuju Roma. Banyak jalan membangun ekosistem. Itulah yang dilakukan oleh Telkomsel, anak emas PT Telkom, ketika masuk menjadi salah satu pemegang saham Gojek-Tokopedia (GoTo). GoTo merupakan decacorn nomor wahid di Indonesia dalam ekonomi digital.
Langkah Telkomsel berinvestasi di GoTo searifnya jangan hanya dilihat sebagai investasi portofolio dan berjangka pendek. Namun, setidaknya harus dilihat jangka panjang – membeli masa depan ketika ekonomi digital tumbuh pesat. Jadi, investasi Telkomsel di GoTo tidak bisa dilihat satu sisi dan jangka pendek.
Menurut catatan Infobank Institute, ada tiga hal penting. Satu, industri start up di Indonesia selain butuh dukungan banyak pihak, juga sekaligus diharapkan meraih peluang di masa yang akan datang. Perusahaan teknologi akan menjadi tulang punggung perkembangan industri digital ke depan.
Salah satu strategi kunci agar kekuatan grit dan daya resiliensi tidak mudah jatuh itu adalah dengan cara menghindari atau menjauhi negative emotion. Secara spesifik, wujud dari negative emotion bisa berupa emosi kemarahan, kesedihan, kekecewaan, kebencian, julid, sirik, nyinyir, hingga iri dan dengki atau juga rasa sinisme yang berlebihan (cynical emotion).
Pertama-tama layak disebutkan, ternyata negative emotion itu memiliki dampak yang buruk bagi kekuatan grit dan daya resiliensi dalam diri kita. Studi saintifik menunjukkan saat jiwa kita terlalu sering disergap dengan emosi kemarahan, kesedihan, kekecewaan, ataupun sinisme yang berlebihan, maka ternyata kekuatan grit dan daya resiliensi dalam diri kita akan mudah jatuh dan lenyap (Frederickson, 2010).
Saat emosi negatif terus menghadang, kita akan mudah mengalami “grit depletion” (atau lenyapnya kekuatan keuletan dalam diri kita). Dengan kata lain, kekuatan grit atau kegigihan dalam jiwa kita akan mudah tergerus habis saat pikiran kita diliputi oleh emosi negatif seperti kemarahan, kekecewaan, kesedihan atau rasa sinisme yang berlebihan.
Itulah kenapa untuk memelihara kekuatan grit dan daya resiliensi, maka kita mesti pandai mengelola emosi dalam jiwa kita. Kita selayaknya menjauhi atau menghindari hal-hal yang bisa memicu kemarahan, kebencian dan rasa sinisme dalam diri kita.