Ada sebuah pepatah yang layak dikenang dan berbunyi seperti ini : teori tanpa aksi adalah ilusi. Aksi tanpa teori adalah anarki.
Maknanya jelas : beragam informasi dan pengetahuan yang tersedia melimpah dalam jagat internet, dan bisa kita kunyah dengan bebas dan sebagian besar gratis, tak akan pernah menjelma menjadi kekuatan magis jika kemudian hanya direnungkan dan dilamunkan.
Setelah Anda sukses menentukan jenis profesi yang akan dijalani, dan sekaligus secara otomatis juga mengetahui jenis skills apa saja yang harus dikuasai, maka proses selanjutnya adalah ini : berjibaku mempelajari dan menguasai skills tersebut.
Kabar baiknya adalah : di era digital ini, hampir semua ilmu dan skills yang ingin Anda pelajari kemungkinan besar telah tersedia di Google University atau Youtube Academy – dan kebanyakan gratis alias free.
Selanjutnya dalam langkah berikutnya, kita akan mengulik tiga prinsip yang perlu dilakukan agar menjadi pakar atau ahli dalam bidang profesi tersebut.
Sebab dalam dunia Gig Economy mungkin berlaku prinsip ini : Your Skills Level Will Mostly Determine Your Income Levels.
Pada akhirnya level skills Anda dalam bidang profesi yang Anda jual itu memang akan amat menentukan seberapa besar income yang akan Anda terima. Semakin tinggi level keahlian Anda, maka bisanya income juga akan makin tinggi. (Meski juga harus segera ditambahkan, asal disertai dengan cara personal branding dan strategi promosi yang cerdik. Skills tinggi namun tidak paham cara mempromosikannya, hanya akan membuat dirimu jadi Sang Pujangga yang kelaparan. Strategi personal branding akan diulas dalam bagian berikutnya).
Keberanian untuk menjadi self-employed dan menjual jasa keahlian yang kita punya diawali dengan kegigihan kita untuk menjadi expert dalam bidang itu. Tentu saja proses untuk menjadi expert ini kudu melalui proses penguasaan skills yang panjang dan acap melelahkan.
Dalam konteks penguasaan skills, ini terdapat tiga prinsip kunci yang layak dikenang. Kita bisa menyebutnya sebagai Three Principles of Learning Mastery. Mari kita bedah satu demi satu.
Pertanyaannya adalah : bagaimana cara mencapainya? Tahapan apa yang harus dilakoni agar Anda bisa menerima income hingga Rp 45 juta per bulan dari profesi yang Anda jalani dalam sebuah sistem Gig Economy? Ada tiga langkah kunci yang kudu dilakukan yakni :
Tentukan Keahlian Apa yang Ingin Anda Jual
Cara Berjibaku Terbaik untuk Menjadi Expert – Based on Science
Membangun Personal Branding untuk Meraih Financial Freedom
Mari kita jelajahi jalannya satu demi satu. Dalam sajian minggu ini, kita hanya akan mengulas yang langkah pertama. Langkah kedua dan ketiga akan kita bahasa di minggu-minggu selanjutnya. Stay tuned.
Dalam sajian minggu lalu, kita sudah melihat sejumlah sampel profesi independen untuk dijalani sebagai self-employed person. Sampel itu memberikan informasi mengenai beragam pilihan profesi yang bisa dilakukan. Tentu saja mengenai profesi apa yang akan Anda jalani tergantung dengan minat atau latar keahlian yang Anda miliki.
Langkah pertama untuk menjalani Self-Employed adalah memang menentukan profesi apa yang ingin Anda jalani. Disini ada tiga kriteria dalam menentukan pilihan profesi Gig Economy yang bisa Anda pertimbangkan :
Semua sebutan diatas sejatinya merujuk pada fakta tentang makin banyaknya orang yang memilihi menjadi self-employed person atau freelancers, atau menjadi independent workers yang tidak bergantung secara permanen pada sebuah organisasi (kantor).
Gig Economy merujuk pada sebuah situasi dimana seseorang mengerjakan beragam order dari pemberi pekerjaan, tanpa terikat kontrak secara permanen. Para pelakunya acap disebut sebagai freelancer, self-employed worker, atau pekerja independen.
Ditengah ledakan internet, kini tampaknya makin banyak orang yang memiliki hasrat untuk menjalani gig economy. Data dari survey yang dilakukan Gallup Worlwide (2014) menyebut ada sekitar 30% dari total orang yang bekerja yang menyebut dirinya sebagai self-employed workers, dan angka itu terus tumbuh dengan cukup pesat.
Dalam sajian pagi ini saya akan menyajikan video ringkas yang saya upload di Youtube. Isi video saya ini membahas sebuah buku bagus berjudul Scarcity : Why Having Too Little Means So Much.
Buku tersebut ditulis oleh dua profesor ekonomi dari Yale dan Harvard University. Isi buku itu mengulas tentang berbagai dampak kekurangan (bisa kekurangan uang, kekurangan waktu, atau kekurangan keahlian) pada kehidupan kebanyakan orang.
Salah satu kesimpulan dalam buku itu kelam, utamanya tentang dampak kekurangan uang bagi kehidupan seseorang.
Dari riset yang dilakukan oleh kedua penulisnya terungkap : orang yang penghasilannya pas-pasan, maka pelan-pelan daya kognisi atau kecakapan otak orang ini akan makin nyungsep. Dengan kata lain, orang yang kondisi keuangannya serba kekurangan, maka kecerdasan otaknya lama-lama akan makin tulalit.
Psikologi Investasi. Ini aspek yang sejatinya amat penting. Begitu banyak orang yang kadang terjebak dalam blunder investasi yang salah karena terkesima dengan permainan psikologis ingin cepat kaya secara instan.
Misal blunder karena ikut-ikutan jenis investasi yang lagi hot dan booming, namun ternyata malah bikin rugi. Atau bahkan ikut jenis investasi bodong yang ternyata hanya money game.
Atau mungkin sekedar tidak punya kesabaran sehingga berulangkali melakukan keputusan investasi yang keliru.
Psikologi manusia yang maunya serba instan atau pengin kaya mendadak acapkali membuat pengambilan keputusan investasi menjadi sangat emosional, tidak lagi rasional.
Semua kesalahan psikologis itu terjadi karena acapkali kita fokus pada “short term thinking” (serba ingin cepat tajir). Padahal beragam studi menunjukkan, long term investing akan lebih mampu menghasilkan ROI yang superior.