3 Cara Dahsyat untuk Meningkatkan Produktivitas dan Kinerja SDM

shutterstock_118475239Great companies are always built by great people. Kecemerlangan sebuah organisasi bisnis pada akhirnya memang dikibarkan oleh barisan SDM-nya yang bermutu unggul.

First who, then what. Begitu kata Jim Collins dalam buku terkenalnya, Good to Great. Untuk membangun bisnis yang legendaris, pertama-tama Anda harus memikirkan manusia-nya dulu (SDM). Baru kemudian berpikir β€œwhat” – strategi dan produknya.

Pertanyaannya : bagaimana cara mengukur dan meningkatkan kinerja diri Anda menuju kegemilangan? Kita akan lacak jawabannya di pagi yang cerah ini.

Saat ditanya peninggalan apa yang paling layak dikenang oleh dirinya, mendiang Steve Jobs (CEO yang dianggap paling inovatif dalam abad ini) berpikir sejenak. Apakah logo Apple yang legendaris itu? Apakah produk Macbook Air yang begitu memukau? Atau iPad dan iPhone yang merevolusi industri digital dunia?

Bukan, bukan itu semua, ia menjawab. Yang paling saya kenang adalah kemampun saya meng-hire dan mengumpulkan best people around the world yang membantu saya mewujudkan visi Apple.

Maka Jack Welch, mantan CEO paling hebat di General Elecetric pernah bilang : orang kedua paling penting di perusahaan kami setelah CEO adalah Chief of HR atau Direktur HRD (bukan direktur keuangan, pemasaran atau direktur produksi).

Jika elemen SDM atau people sedemikian menentukan kinerja dan masa depan bisnis, lalu cara apa yang layak dilakoni untuk membuat diri Anda menjadi SDM dan insan profesional yang unggul?

Ada tiga cara ampuh yang layak dicatat dalam proses perjalanan panjang membangun diri Anda untuk menjadi insan yang unggul.

People Driver # 1 : Create Strong Measurable Performance Indicators. You can not manage what you can not measure, begitu begawan manajemen Peter Drucker pernah menulis.

Kinerja Anda sebagai manajer atau pekerja profesional yang mencorong pada akhirnya memang diawali dengan penetapan serangkaian KPI (key performance indicators) yang solid, dan disertai dengan target yang terukur.

Sebab bagaimana mungkin Anda akan bisa melacak kinerja diri Anda sendiri jika ukurannya saja tidak punya. Bukankah ini seperti mau membeli nasi goreng tapi tidak tahu informasi harganya? Bukankah ini pertanda personal develeopment yang absurd?

Sayangnya, banyak pengelola SDM atau karyawan dan bahkan manajer di berbagai organisasi yang tidak tahu cara menyusun KPI yang benar. Banyak karyawan atau manajer sebuah departemen dalam perusaahaan yang mengalami kesulitan dalam menemukan KPI atau performance indicators yang terukur.

Untuk menjawab tantangan itu, saya mencoba merumuskan katalog sampel 300 KPI untuk 25 departemen (atau hampir semua bagian dalam perusahaan, mulai dari bagian HRD hingga bagian Warehouse). Anda bisa mendownload sampel 300 KPI ini DISINI.

People Driver # 2 : Measure and Monitor and Improve. Setelah mampu merumuskan KPI dengan tepat (mungkin dengan bantuan contoh 300 KPI yang saya sebutkan diatas), maka step berikutnya adalah : ukur dan pantau pencapaian target KPI secara periodik (bulanan atau bahkan mingguan).

Salah satu sumber kegagalan penerapan manajemen kinerja berbasis KPI adalah ketiadaan mekanisme untuk melakukan pemantauan hasil KPI secara reguler.

Seharusnya, setiap manajer atau kepala departemen diwajibkan untuk menggunakan tabel KPI sebagai salah satu basis dalam monthly meeting yang mereka lakukan dengan tim-nya. Syukur, tabel KPI itu diukur dan dipantau melalui aplikasi performance management dashboard yang memudahkan proses pencatatan hasil kinerja.

Melalui proses review itu, kemudian dapat dilakukan continual improvement guna meningkatkan kinerja tim dan kinerja SDM organisasi secara berksenimbunga.

Measure. Monitor. Improve. Ini tiga elemen kunci yang akan membuat kinerja diri Anda bisa terus melesat. Dan bukan stagnan seperti jalan Sudirman pas pulang kerja πŸ™‚

People Driver # 3 : Reward for Performance. Penetapan KPI sudah dilakukan. Pengukuran dan pemantauan hasil KPI juga sudah dilacak. Maka tahapan berikutnya adalah ini : memberikan reward yang cukup melimpah bagi mereka yang sudah achieve target KPI yang telah ditetapkan.

Sekali lagi kita perlu mengenang kalimat magis ini : if you pay peanuts, you will only get monkeys.

Jika kita menetapkan target KPI yang menantang, dan juga memberikan alokasi anggaran dan sumber daya untuk mencapainya; maka kita juga mesti memberikan bonus atau reward bagi mereka yang berhasil memenuhi target itu.

Sebab jika kita agak pelit memberikan reward, dan hanya kasih peanuts, maka barisan karyawan atau manajer bagus yang mampu achieve target KPI, akan pindah ke lain hati. Pindah ke perusahaan lain yang mampu memberikan more than just peanuts.

Jika penetapan KPI yang terukur sudah dilakukan, maka sebenarnya obyektivitas kinerja pegawai bisa dinilai dengan lebih optimal. Maka dengan proses ini, wajar jika bonus dan reward diberikan pada mereka yang mampu menembus target terukur yang telah ditetapkan.

Your numbers speak for themselves. Target angka KPI tercapai, maka bonus melimpah. Target KPI jeblok, zero bonus. Sesederhana itu.

Demikianlah, tiga cara ampuh untuk membuat kinerja Anda menjadi kian mencorong.

Driver 1 : Create Strong KPIs (Anda bisa download sampel 300 KPI DISINI).
Driver 2 : Measure. Monitor. Improve.
Driver 3 : Show Me the Money, boss !!

Selamat bekerja, teman. Mudah-mudahan tahun ini Anda akan dapat bonus 10 kali gaji. Amin.

Related Post

Dapatkan Summary Buku-buku Bisnis Dahsyat secara GRATIS Banyak buku bisnis dan pengembangan diri yang diterbitkan penulis-penulis kelas dunia dari luar negeri. Sebagian judulnya bisa Anda lihat dalam gambar...
Mind Map : Tool Ampuh untuk Melejitkan Produktivitas Anda Pekerjaan rasanya kok tidak pernah berhenti, dan mau diajak untuk rehat sejenak. Tumpukan pekerjaan rasanya terus mengalir, menyapa kita dalam setiap ...
Bagaimana Rasanya Bekerja di Google ? Google kita tahu, kini telah menjadi salah satu dewa dalam bisnis digital masa depan. Google telah menjelma menjadi perusahaan raksasa dengan kinerja ...
28 comments on “3 Cara Dahsyat untuk Meningkatkan Produktivitas dan Kinerja SDM
  1. Sudah selayaknya jika pencapaian karyawan diberikan reward, namun apa jadinya jika pembeeian reward hanya berpedoman pada rajin atau tidaknya masuk kerja?

    3 cara ini patut menjadi rujukan bg setiap hrd agar mampu mwningkatkan performa karyawan dan manajernya

  2. sudah saatnya perusahaan-perusahaan di indonesia menerapkan kinerja yang seperti diatas. Karena jika kita memantau KPI secara bulanan, maka target akan lebih terarah dan dapat diukur sampai mana pencapaian target tersebut. Salam KPI

  3. Hello….? Good morning for you all. How are this morning ..? I hope you start you work with spirit to reach success to day ? Okay..?

    Sungguh sajian Strategi Ilmu Management + Business yang renyah di pagi ini. Serenyah Roti dicampur selei strawberi dan secangkir kopi susu… Nikmat sekali !!

    Jadi, Ada tiga cara ampuh yang layak dicatat dalam proses perjalanan panjang membangun diri Anda untuk menjadi insan yang unggul yaitu:

    # 1 : Create Strong Measurable Performance Indicators.
    # 2 : Measure and Monitor and Improve.
    # 3 : Reward for Performance.

    Dan…Sekali lagi kita perlu mengenang kalimat magis ini :

    if you pay peanuts, you will only get monkeys.

    maksudnya kira-kira begini ya ….

    ‘Jika Anda membayar kacang , Anda hanya akan mendapatkan monyet ‘.

    Luarrrr Biasa. Thanks.

  4. Setuju banget!

    KPInya aja ga ada, bagaimana memngukur dan menentukan prestasi?

    Jika tidak ada proses pengukuran prestasi, trus bagaimana perusahaan mau maju?!

    Ga bakalan menang untuk persaingan abad ini. (Kecuali balapan sama siput)

  5. “Tentukan “WHO” then “WHAT”. Keliahatannya hanya utk perusahaan besar yg bisa hunting good people and good pay.

    Perusahaan kecil masih sebaliknya . What and then who….

  6. Judul sama isinya kurang nyambung pak. Kesan dari judul artikel, lebih ke aspek person bagaimana membentuk habit yang great. Isinya banyak ke aspek perubahan manajemen bisnis perusahaan.

    Pandangan yang menarik, “orang kedua yang penting di perusahaan adalah Chief of HRD”. Pandangan di kantor saya, adalah Chief of Marketing.

    Trimakasih atas share ilmunya pak Yod. Semoga sehat selalu dan rizky berlimpah amin YRA

  7. ‘Who then What’ banyak sekali perusahaan melupakan ‘who’ ketika memilih karyawan. Padahal keberhasilan perusahaan adalah keberhasilan dalam mengurus orang-orang didalamnya.

  8. Ada sedikit pengalaman dari cerita seorang kawan, bagaimana suatu organisasi akan membawa dampak yang baik dan memberkahi kalau pengurusnya saja tidak/kurang menghargai kemampuan dari para anggotanya?

    masak seorang programmer pengalaman hanya dihargai setengah gaji UMK? ….begitu kata seorang kawan.

  9. Senangnya jika artikel bapak bisa diterapkan di seluruh perusahaan, maka sebagai karyawan kita semangat mengejar prestasi sesuai KPI.

    Tidak ada lagi sistem KKN.

    Jika tidak punya relasi atau uang, maka promosi jabatan semakin jauh dari genggaman.

  10. Setuju pak Yodya, Great companies are always built by great people.

    Koreksi pak bukan bulit ada kesalahan ketik, tapi built.

  11. agak teknis ini pak yod, agak gak paham soalnya bukan orang HR apalagi belajar soal manajemen SDM, hehe, tapi bener kalau perusahaan bisa maju pesat tidak hanya dari segelintir orang saja, tapi keseluruhan orang yang berkontribusi di dalamnya juga.

  12. apa karena tidak ada ketiga hal tersebut mayoritas guru di Indonesia kurang termotivasi pak Sandiaga Uno eh pakYodhia ya? πŸ™‚

    sesekali bahas tentang guru dong master. thanks.

  13. Luar Biasa,
    artikel yg diluncurkan selalu dinantikan pak

    catatan kecil pak yodh,
    You can not manage what you can not measure is popular by W. Edward Deming , salah satu bapak manajemen

  14. Postingan soal kinerja dan SDM yang seperti ini yang saya suka dari blognya Pak Yodhia.

    Diperusahaan saya dulu untuk poin 1 dan 2 sudah dijalankan, tapi terkadang poin ke-3nya tidak kunjung datang dan alhasil banyak SDM yang dahsyat justru menghilang satu persatu.

    Sayang sekali bukan?

  15. Dahsyat sekali !!

    Tapi untuk perusahaan yang baru mulai businessnya bagaimana kita meyakinkan pemilik perusahaan untuk invest > 50% biaya untuk SDM.

    Thanks pak

Comments are closed.